Ultimate Goal…!

Standard

Study program in Japan: (Describe this in detail and concretely—particularly about the ultimate goal of your research in Japan)”

Kata-kata tersebut adalah judul sebuah kolom isian yang terdapat pada form “Field of Study and Study Program” untuk meng-apply beasiswa Monbukagakusho. Pertama membacanya, saya cukup terkesan dengan kata-kata yang dibold di atas. Ya, ‘Ultimate Goal’, tujuan akhir yang ingin dicapai. Dalam konteks ini, mungkin sederhananya adalah seperti: membuat obat untuk menyembuhkan kanker ganas, menemukan spesies baru di dasar laut, membuka komunikasi intergalaksi dengan para alien, dst…

Ok, kita pisahkan diri sejenak dari pembahasan penelitian, saya ingin mencermati lebih dalam kata-kata yang saya bold diatas. Jika disebutkan kata ‘ultimate’, untuk mendefinisikannya akan bermunculan kata-kata seperti: last, furthest or farthest, maximum, decesive, conclusive, highest, not subsidiary, basic, fundamental, final, dan total. Tak jarang pula kita mendengarnya dalam kata benda, ‘ultimatum’, yang pada artikata.com diartikan sebagai peringatan atau tuntutan yang terakhir dengan diberi batas waktu untuk menjawabnya. Cukup mendalam ya artinya. Dan saya rasa ialah tujuan teratas yang inign digapai oleh diri. Puncak dari puncak harapan, cita, yakni tujuan itu sendiri. Sehingga saya berpikir lagi, apa yang sesungguhnya disebut dengan ‘Ultimate Goal’ dalam hidup kita…? Adakah…?

Flash back sedikit. SLTP kelas 3. Ada sebuah sekolah ‘idaman’  di Bandung yang menarik minat dan angan sebagai pilihan melanjutkan langkah pendidikan bagi saya saat itu. Angkot Antapani-Ciroyom yang sehari-hari saya naiki, jika kebablasan karna saya ketiduran (misalnya) dan membawa saya ke arah yang lebih Barat, akan menampakkan sosok sekolah ‘idaman’ itu. Setiap melintasinya, saya menggambarkan diri yang sedang makan mie ayam di kantin yang memang ramai nian terpandang dari pinggir jalan. Bukan mie ayam nya yang saya mupeng-i, akan tetapi status ‘siswa’ sekolah tersebut yang menjadi cita pembangkit semangat kala itu. Hmm… Ultimate Goal…? Mungkin.

Waktu berlalu, Alhamdulillah, atas izin Allah saya bisa makan tak hanya mie ayam, tapi menu-menu enak lainnya di kantin sekolah itu sebagai siswa. Hehe.

SMA kelas 2 adalah masa-masa keemasan, mencari jati diri, merajut cita, menjalani aktivitas positif dengan penuh gelora. Di tengah hari-hari keemasan itu, wisata budaya mengantar diri ke tanah Yogyakarta. Tumbuh benih cita yang cukup lama terpendam untuk menjadi dokter. Plus lebih spesifik lagi untuk menjatuhkan pilihan ke UGM. Dengan jilbab berwarna merah, rok batik dan kaos putih, saya berfoto-foto di depan tugu bertuliskan “Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada”. Kemudian saya print, dan tempel di kamar, bersama bejibun kata-kata penyemangat yang memenuhi dinding kamar saat itu. Nostalgia SPMB. Jadi, inikah ultimate goal…? Mungkin saja.

Waktu berlalu lagi, Syukur Alhamdulillah, saya bisa foto-foto tak hanya di depan tugu saja, tapi juga di mushala, ruang kuliah, lab, sekre BEM, taman, dst.. Sebagai anggota keluarga FK UGM.

Kembali ke dunia nyata saat ini. Alhamdulliah, kini di depan nama saya terdapat dua huruf dengan satu titik yang mau tidak mau menuntut sederet konsekuensi beserta hak dan kewajiban di dalamnya. “dr.”.

Lalu kini, sudah terbangun lagi sederet mimpi dan cita untuk dilanjutkan di masa yang akan datang. Setiap tahap yang dilalui dengan seksama. Menyusun cita dan harapan untuk dicapai kemudian tercapai dengan izinNya. Urusan demi urusan itu silih berganti datang tak kenal henti hingga ajal menghampiri.

Jadi, sebenarnya,, “Ultimate Goal itu apa……?”

Setelah mengikuti seleksi Monbukagakusho lalu, dan berhasil luluh lantak dengan sukses di sesi wawancara (hehe), saya semakin mantap dengan sebuah keyakinan. Ya, sebuah keyakinan bahwa:

“ultimate goal itu tidak bisa diwujudkan di dunia…!”

🙂

Banyak cita yang tercapai, namun tak sedikit pula yang tak teracapai, wajarlah jika kecewa tapi cukup sesaat saja. Karna sungguh, segala apapun di dunia ini adalah sarana. Sarana untuk menggapai tujuan penciptaan kita. “Beribadah pada Allah SWT..”

masuk sekolah idaman itu sarana, menjadi dokter itu sarana, menjadi kaya atau miskin juga sarana, menikah pun sarana (yang sangat strategis untuk kesuksesan dunia-akhirat insyaAllah), mau apa lagi? Hafal Quran, ya sarana.. menjadi master chef, ya sarana… menjadi da’I kondang, sarana juga..

dan bercita-cita, pun sarana.. 🙂

lalu, dimana Ultimate Goal kita…?

Ibnu Ahmad Rahimahullah ditanya oleh seseorang:” Kapan seorang mukmin itu istirahat, Kemudian beliau Rahimahullah menjawab ” ketika kita menginjakkan kedua kaki kita di surga, itulah istirahat yang hakiki”

Ya, disanalah Ultimate Goal kita, insyaAllah… 🙂

” Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Al Insyiroh:7)

Pemalang, 29 September 2012

My brother was born this day, 18years ago 🙂

Sabarmu, Semangatmu, Bangun Jalanmu!

Standard

“Selalu ada jalan terbentang bagi siapapun yang terus berjuang…”

at Djogja Istimewa 🙂

Sering sekali statement ini kita dengar. Ntah benar-benar terinternalisasi maknanya atau tidak, yang jelas ia akan membangkitkan semangat juang walau hanya sesaat. Di titik-titik kritis, bahkan di ujung ambang keputus asaan sekalipun.

Kita semua tentu merasakan bahwa hidup ini tak selalu mulus, kalau kata sebuah iklan, “Life is never flat!”. Yap, benar banget itu. Tapi dalam kondisi ber-gronjal-gronjalnya jalan hidup sekalipun, Allah senantiasa memberikan kita ‘pasir, batu, aspal, dan bahan-bahan lain’ untuk membuka jalan maju ke depan. Hanya saja terkadang kita malah menyalahgunakan bahan-bahan tersebut untuk hal lain..(korupsi dong?) misalkan membangun tembok menjulang yang memutus lahan untuk memandang luas ke depan, atau malah membuat rumah singgah yang memanjakan kita hingga lupa untuk melangkah maju ke depan. Padahal jika kita mau bersabar, hilangkan rasa malas, dan teguh pada cita-cita awal, energi dan kapasitas kita sungguh sebenarnya mampu untuk membuka dan membangun jalan, ntah yang mulus seperti jalan tol, atau berpasir, atau yang berbatu-batu sekalipun! Intinya masih bisa membuat JALAN.

Ah.., terlalu banyak hal yang mengawang, kini sebaiknya kita pijakkan pembahasan ke tanah alam nyata saja.

Dalam acara grand final ajang pencarian bakat yang sempat menjadi buah bibir warga Indonesia beberapa saat lalu (inisial I.I.), seorang dan satu-satunya juri wanita pada kontes tersebut (you know who lha) dimintai pesan semangat untuk para penonton, bagaimana bisa se‘sukses’ seperti ia sekarang. Lalu dengan delik mata  yang tajam, sang juri itu pun berkata:

“Jangan pernah PUAS dengan capaian-capaian kita sekarang!”

glek..

statement yang (menurut saya) apa adanya dan memang begitulah adanya. Menyiratkan bahwa ia memiliki sebuah cita-cita besar di hadapan, orientasi dan tujuan, dan ia tak lupa untuk menujunya merintis jalan.

Masih ada langit di atas langit, masih ada jalan di ujung jalan.

Apakah seorang Lintang dalam kisah tersohor negeri kita “Laskar Pelangi” mampu begitu menginspirasi walau ianya putus sekolah, jika saat berangkat menuju surau pendidikan ia bertemu buaya di rawa kemudian malah berbalik arah pulang ke rumah? Hmm.. Apakah juga sesosok Handzalah, sang syahid yang dimandikan para malaikat, menjadi pelecut semangat bagi jiwa-jiwa di akhir zaman dengan ruhul istijabah-nya, jika saat panggilan jihad berkumandang ia tetap di rumah, dibuai kenyamanan malam pertamanya sebagai seorang pengantin baru? Saya rasa jawaban untuk keduanya adalah TIDAK. Mereka tak membangun tembok yang menjulang untuk kembali mundur ke balakang, tak juga membangun rumah singgah yang membuaikan hingga mengurungkan kaki-kaki untuk melangkah maju ke depan. Tak ada tembok, tak ada juga rumah. Mereka telah membangun JALAN. Dengan mengais bahan baku yang terserak, menghimpunnya penuh kekuatan jiwa, lalu menyempurnakannya atas keyakinan doa.

Kalau kata lagu Big Yellow Taxi: “Don’t it always seem to go, that you don’t know what you got till its gone..” saya mau bilang: “Don’t it always seem to come, that you don’t know what you’ll get till its came” (Englishnya maksa tenan nih). Kita belum akan tahu kemana sebenarnya takdir kita, masa depan dan lahan yang menjadi rezeki kita, jika kita tak melangkah ke depan membuka jalan. Bukan hal yang mudah memang, ya sama seperti kalau kita mau out bond, membuat rute baru, kan harus nebang-nebang ranting sambil kadang tersayat-sayat.

Ada kisah lain saat saya sedang di persimpangan jalan sudut kota Bandung. Saya melihat penjual koran dan berniat untuk membelinya. Sang tukang koran itu pun mendekat,… Namun apa yang terjadi? beberapa langkah sebelum sampai ke mobil yang saya kendarai, dan beberapa detik sebelum saya hendak menurunkan jendela, saat saya sudah siap-siap mengangkat tangan dan membuka mulut untuk memanggilnya,….. wow, tiba-tiba ia berbelok dan menjauh dari pandangan mata saya..! hingga saya pun mengurungkan niat untuk membeli koran tersebut. Ini bukan disebabkan oleh sentimen pribadi sang tukang koran terhadap saya, tentu saja. Tapi coba kalau ia maju barang selangkah lagi, mungkin ia akan melihat saya yang baru saja mau memanggilnya. Ya, tentu ini tak terlepas dari takdir akan rezeki sang tukang koran tersebut, tapi saya merefleksikannya pada kehidupan diri, mungkin selama ini banyak momen-momen dimana kita telah memalingkan diri kemudian luput dari rezeki yang sebenarnya sudah berada di depan mata, yang mungkin saja dapat kita peroleh jika saja mau bersabar sedikiit lagi… huft.. (kita berbicara dalam konteks berusaha,di samping dari pemahaman bahwa takdirNya adalah tentu yang terbaik bagi kita).. Anyway, terimakasih bapak tukang koran, mudah-mudahan hikmah ini menjadi amal jariyah yang telah kau ajarkan pada kami. Aamiin.

Dari refleksi-refleksi acak di atas, dapat lah sekiranya diri ini menarik kesimpulan, tentang betapa indahnya BERSABAR di titik-titik kritis, untuk tetap bertahan pada keyakinan meski tak mudah bagai yang diangankan., serta betapa pentingnya memohon selalu kepada Allah agar kita dijauhkan dari rasa malas untuk MEMBANGUN dan MENITI JALAN. Jalan panjang.

Saya pernah mengalami suatu masa kritis dimana sungguh ingin rasanya saya melarikan diri dari apa yang tengah saya hadapi di depan mata (baca: layar laptop dengan tampilan rencana penelitian yang masih blank..). ingin rasanya melarikan diri ke tab internet baru dengan alamat: facebook.com atau wordpress.com.hehe. Tapi alhamdulillah saat itu dengan pertolongan Allah saya masih diberi kekuatan untuk bertahan, dan bantuan dariNya berupa erornya dua situs tersebut (benar2 hanya dua situs itu saja yang tidak bisa saya akses saat itu..ckck..). eits..stop curcol. Alhamdulillah dibukakan jalan, selangkah demi selangkah untuk dilalui..

Kini, di bulan Ramadhan yang penuh keutamaan, yang semakin melejitkan pesona sebuah kesabaran untuk tetap istiqomah meraih passion yang semoga Allah meridhoinya, mari kita terus melangkah! Membangun jalan-jalan menuju cita-cita besar. Kesabaran dan doa jadikan sebagai bahan bakar energi, dengan Bismillah, insyaAllah akan ada jalan yang dapat kita bentangkan untuk terus maju ke depan. Menggapai takdir terbaik yang telah Allah persiapkan untuk diri-diri kita. insyaAllah…

Terakhir, ini adalah doa untuk memohon dijauhkan dari kemalasan, mari kita amalkan 🙂

“Allaahumma inni a’uudzubika minal hammi wal hazani wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali wa a’uudzubika minal jubni wal bukhli wa’auudzubika min ghlabatid daini wa qohrir rijaal”

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kapada-Mu  dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang, dan kesewenang-wenangan orang” (HR Abu Daud)

Alhamdulillah,

Pemalang, -saatnya kembali melanjutkan tulisan utama- 23 Juli 2012

Pemalang Story #3: Ramadhan is Comi~ng! partOne

Standard

Euforia melanda bumi Pemalang! InsyaAllah kurang dari 24 jam menjelang kedatangan tamu agung yang tengah dinanti umat muslim seluruh dunia! Ramadhan kareem 🙂 aromanya kian terasa mendekat, diiringi dentingan ranting pohon tertiup angin bersahutan, nyanyian jangkrik hiasi kesyahduan malam, juga semilir udara halus membelai wajah dengan senyum merekah. Semoga Allah sampaikan kita semua padanya, dan Allah beri kita kekuatan untuk berikhtiar sekuat tenaga menggapai keutamaan yang ia bawa.. menuju kemenangan jiwa, kebebasan hati dari belenggu iri dan dengki, serta segala penyakit yang menggerogoti. InsyaAllah, aamiin

jelang Maghrib di Pemalang

Hari pertama Ramadhan memang selalu berkesan. hari pertama Ramadhan di tahun 2010, bertepatan dengan dimulainya stase kandungan-kebidanan di RS Klaten. Hari-hari Ramadhan yang dilalui di: Asrama Koas-Kamar bersalin-Bangsal-Masjid RS-Asrama Koas-dst… kadang-kadang menghirup udara dunia luar, dan saya ingat sekali.. saat sholat Ied di halaman depan RS Klaten, angin yang berhembus begitu segaar.. Alhamdulillah. Lalu tahun 2011, kami sedang menjalani rotasi terakhir masa koas di Cilacap. Alhamdulillah dikaruniai ibu Kost, kawan kelompok, dan lingkungan rumah yang begitu kondusif untuk menghidupkan nafas Ramadhan disana. Banyak momen dan keputusan penting yang dihasilkan di Ramadhan tahun lalu, termasuk untuk mulai menulis blog ini 🙂 (mudah-mudahan bisa terus istiqamah). Tak lupa.. Pantai Teluk Penyu! yang hanya berjarak 10 menit dengan mengendarai motor, menjadi tempat favorit untuk merenung dan berkontemplasi barang 30 menit seusai subuh hari. Alhamdulillah. Kini 2012, masih di tanah rantau, kali ini Pemalang! Secara jarak, makin ke Barat, mendekati Bandung, my home sweet home.. 🙂 Akan selalu ada lahan terangkul bagi petani yang siap mencangkul. Saya juga ingin mencangkul hikmah yang terserak, yang tengah menanti rangkulan dari petani ilmu yang siap merenungkan dan mengamalkan nilainya. Pemalang mengajarkan saya tentang apa itu dunia nyata. Dunia bermasyarakat. Sebuah dunia kongkret yang memang berbeda dengan dunia-dunia yang telah saya huni sebelumnya. Dunia sekolah yang penuh gairah, serta dunia kampus yang penuh idealisme telah dilalui, kini saya berada di sebuah dunia nyata yang telah menanti untuk mewarnai saya, atau diwarnai oleh saya. Itu pilihan dan sesuatu yang harus diamalkan 🙂

from Deede Kharisma’s photography

Dugem alias duduk2 gembira melingkar, aktivitas rutin yang menjadi kubutuhan jiwa raga saya, kini sedikit berbeda warna. Ia dihiasi tangisan dan kehebohan calon-calon pembaharu masa depan yang diajak sang ummi,  juga cangkir-cangkir berisi teh manis hangat fresh from the kitchen (saat mahasiswa, biasanya satu atau dua gelas untuk rame2… ups!;p), lengkap dengan jemputan para abi yang sudah menanti di depan rumah seusai kegiatan. Hehehe. Walau berbeda warna, Ia tetap bercahaya. Ya, selalu dan selalu menjadi lingkaran cahaya bagi sayaJ pun sama halnya dengan forum-forum lainnya. Ada ibu(..mungkin tepatnya nenek ya) yang telah berusia 70 tahun lebih, jalan pun pelan-pelan, namun semangat mengajinya menyala-nyala. Hingga saya yang muda pun dibuat malu oleh semangatnya itu..

ibu-ibu seusai Yasinan 🙂

Pada satu kesempatan, dalam camping Al Quran beberapa minggu lalu yang saya ikuti selama 3 hari 2 malam, saya bertemu dengan sosok-sosok ibu keren (pakai banget). Menggendong bayinya di lengan kiri, sambil terus membaca mushaf di tangan kanannya sembari menimang-nimang. Ada pula yang mengajak si mbah nya untuk menjaga sang buah hati sementara ia menyelesaikan setoran hafalan dengan ustadz. Dan lagi-lagi, ritual seusai acara.. yakni pasukan penjemput: para abi yang sudah merindukan istri dan anaknya setelah terpisah selama 3 hari 2 malam. Hehehe.. Di awal acara, saat sambutan pembukaan kami dipantik semangat dengan diajak berfastabiqul khairat untuk menjadi bidadari-bidadari seperti dalam surat Ar Rahman ayat 72.. “Huurum maqshuurootun fil hiyaam..(bidadari-bidadari yang depelihara di dalam kemah)” “kita kan mau kemah nih..!” ujar sang pembawa acara yang disambut senyum para peserta. Dan mungkin telah saya temukan sosok-sosok bidadari itu di sini. Para ibu, mujahidah yang begitu menginspirasi dengan kesungguhannya. Satu keluarga bersatu padu saling menyokong.. dan itu pula lah yang dikatakan oleh peserta terbaik camping Al Quran kali ini, seorang ummahat yang berhasil menyelesaikan hampir 30 juz dan setoran hafalan 1 juz. “Dukungan keluarga lah yang menjadikan saya terus semangat dan dapat fokus pada Al Quran.. si mbah yang sengaja ikut untuk jagain ade (putranya-pen), juga suami yang terus mengontrol kegiatan ibadah saya disini via komunikasi HP..” Masya Allah.. 🙂

ngaji bareng buah hati

Begitulah Pemalang mengajarkan banyak hal pada saya.. insyaAllah tulisannya bersambung lagi, dengan poin-poin hikmah yang lebih rigid. mohon dimaklumi jika tulisan kali ini lebih banyak curcol.. mudah-mudahan ada hikmah yang bisa dicangkul pula! Selamat menggapai keutamaan sang Bulan Mulia, Ramadhan! 🙂

satu sudut bersama Bunda dan Quran 🙂

Malam Pemalang, 18 Juli 2012

Pemalang Story #2: Ketika Darah Bicara..

Standard

Bicara tentang darah, tak jauh memang dari ruang gawat darurat.. tak jauh memang dari keseharian seorang tenaga kesehatan.. dan.. tak jauh pula dari cerita tentang kematian…

*Pemuda yang terlebih dulu datang*
3 hari menjelang memulai praktek keperawatan di RS dr. M. Ashari Pemalang. Ditengah perjalanan menuju rumahnya, takdir menyuratkan ia datang lebih dulu dari pada semua teman-temannya. Ke RS ini. Namun ia datang tak dengan gagah putihnya balutan seragam, tak juga dengan semangat tholabul ilmi yang berapi-api. Ia datang dengan kesadaran yang mengambang. Derasnya darah yang mengucur tak pelak untuk kami imbangi dengan puluhan flabot infus serta obat-obatan yang terpasang di kedua tangannya. Pukul 17.30 hingga 21 malam ia disini bersama kami, di ruang gawat darurat. Kesadarannya yang waktu demi waktu menurun, dan darah merahnya yang tak kuasa untuk kami membendung, seolah mnyampaikan salam terakhir untuk meraka yang akan kau tinggalkan. Ia yang anak tunggal..ia yang akan segera diwisuda.. tapi takdir berkata, kau untuk datang terlebih dahulu.. mendahului semua teman-teman seprofesimu..mendahului semua harap dan angan kedua orangtuamu.. mendahului semua rencana manusia,untuk menjawab takdir Yang Maha Kuasa…
Semoga kau damai disana..

*Mami, Becak, dan Pistol*
Perampokan terjadi di dekat pasar yang berjarak kurang lebih 100m dari RS. sang korban kini berada di hadapan kami. Wajah chinese putihnya yang cantik terlihat tambah putih dan kini pucat. Pakaiannya hanya basah dengan satu warna: merah. Ia tak berdaya di atas becak yang mengantarnya kemari. Sedang darah segarnya terlihat begitu deras mengucur dari luka kecil yang menganga di lehernya. “…..ah..” apa yang harus kukata, daya semampu upaya kami perjuangkan bersama. Kembali terasa kerja tim yang dahsyat di ruangan ini, lantai yang licin oleh genangan darah pun menjadi saksi akan sebuah kerusakan nurani yang tengah melanda negeri kita tercinta.. pukul 16.40 hingga 18.40.. ruang penanganan tertutup rapat kecuali bagi para tenaga yang tengah berjuang mengitari ambang hidup-mati seseorang. Hingga, ia pun menghadap Yang Maha Kuasa… Dan kini, di depan saya telah duduk sekian anggota keluarga, termasuk suaminya. Ini adalah salah satu masa yang berat bagi kami, masa untuk menyampaikan berita duka. Bibir begitu kelu untuk menyatakannya..telinga pun ngilu untuk mendengar isak tangisnya.. sedang hati tak mampu lagi selain untuk menahan segala kecamuk yang bertubi-tubi menghadang.
“…Mi…kasihaan anak-anaak..Mi…”
Kalimat yang kudengar dari bibir sang suami..
Selamat jalan,Mami.. Di atas becak, kau dihadang oleh pistol tak bernurani.. namun.. darah yang telah kau curahkan, tak pernah berarti sia-sia bagi kami..

*monolog*
Keheningan tengah malam terasa menusuk-nusuk tulang belakangku. Sedang kedua tangan tak henti terus menggosok jas putih yang basah dengan air sabun. Noda merah, yang telah kecoklatan, mulai pudar ditelan ampuhnya duet air dan sabun. Darah itu mulai larut.. darah orang-orang yang kubersamai saat-saat terakhirnya.. Darah mereka yang menjadi perantara hilangnya sebuah nyawa.. karna kau begitu banyak keluar, karna kau berada di luar tempat yang semestinya kau berada..

Tapi,tak ada yang salah dari takdirNya. Inilah yang terbaik.. inilah yang terbaik..

Memang tak ada satu kejadian pun yang pasti di dunia ini..kecuali satu hal.. ya, satu hal itu adalah kematian..

Sudah berbekal apakah kita…?

–menuju Bandung, 20 Mei 2012–

Allah Mengetahui…

Standard

#Sebuah puisi lawas yang tetap menyentuh, by Anonim#

*****

Saat kau lelah dan tak berdaya karena usahamu gagal,

Allah tahu betapa gigih kau telah berusaha

Ketika sekian lama kau menangis dan batinmu menderita,

Allah telah menghitung tangismu

Saat kau rasa hidupmu tak menentu dan waktu terus meninggalkanmu,

Allah menunggu bersamamu

Ketika kau kesepian dan kawanmu terlalu sibuk meski hanya untuk menelpon,

Allah berada di sisimu

Saat kau mencoba segala sesuatu dan tak tahu harus berbuat apa lagi,

Allah memiliki jalan keluarnya

Ketika semuanya tidak masuk akal dan engkau merasa bingung atau frustasi,

Allah memiliki jawabannya

Saat tiba-tiba hidupmu lebih cerah dan kau temukan secercah harapan,

Allah telah berbisik kepadamu

Ketika semua berjalan dengan lancar dan banyak yang harus kau syukuri,

Allah telah memberimu berkah

Saat kegembiraan datang dan engku merasa terpesona,

Allah ‘tersenyum’ padamu

Ketika kau punya cita-cita dan mimpi untuk diwujudkan,

Allah telah membuka matamu dan memanggil namamu

Ingatlah.. dimanapun engkau dan apapun yang kau hadapi.. 

Allah mengetahui

*****

Saat menghadapi kesedihan yang mendalam di relung jiwa, menyaksikan secara gamblang akan menguapnya sebuah asa.. seolah gelap mengukung, meredupkan cahaya dengan jemarinya yang menggulung.. hanya Ia lah sebaik dan sekokoh tempat bersandar. untuk segala rintihan jiwa, segala harap yang tersisa, dan segala cahaya baru yang akan segera memancarkan sinarannya di jalan panjang yang tengah membentang disana..

dan hanya padaNya lah segala doa berhimpun, segala isi hati tercurah…

*****

“Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS 9:129)

teruntuk engkau yang tegar ditengah segala cobaan, semoga Allah senantiasa anugerahkan kelapangan hati untukmu.. Pemalang,  15 Mei 2012

Suju, Power Ranger, dan Supertrap!

Standard

Pekan lalu, media informasi di nusantara sempat dihebohkan dengan kedatangan musisi tamu dari negeri ginseng, Super Junior alias Suju. Tak dapat dipungkiri, kepopulerannya di kalangan anak muda tanah air terutama para remaja putri memang luar biasa dan menyita banyak perhatian. Kalau saya sendiri tahu Suju sejak tahun 2010 saat rotasi klinik, dimana kami koasisten berkelompok sering tugas keluar kota dalam waktu yang cukup lama, menghabiskan waktu hactic dan santai bersama, hingga bisa mengetahui hobi dari masing-masing anggota. Salah satu yang dapat saya ketahui dari teman-teman saya adalah hobi Korea. Ternyata banyak sekaaliii grup band disana, drama-drama, juga movie-movie, dan saya lebih ternganga lagi karena teman-teman saya cukup faham mendalam bahkan hafal personil-personil grup band yang bejibun itu..he.. Okay, its okay.. kalau saya pribadi terkesan dengan pola hidup sehat artis-artis itu, setiap hari pastinya mereka berlatih menari, bernyanyi, hingga saya membayangkan pasti tubuhnya sehat bugar dan jarang sakit. itu saja..  🙂

Namun ada satu hal yang cukup membuat saya heran saat kedatangan Suju pekan lalu di Indonesia. Yakni berapi-api nya para fans!! demi menyambut kedatangan personil ‘impian’ mereka di bandara, ada yang rela menginap disana, berbagai atribut pun mereka lengkapi, mulai dari kostum hingga poster besar bertuliskan “Marry me!” (ow..ow.. yakin nih mba?). Dan gongnya adalah saat tahu bahwa ternyata sang tamu sudah keluar dari gate lain, akhirnya mereka pun patah hati, sedih, menangis, dan menyesali diri: ‘mengapa ini harus terjadiii…!’ saya jadi bertanya-tanya.. mengapa sampai segitunya ya??? Lalu, demi mencari jawaban yang objektif, saya mencoba berempati(sementara) dengan merefleksikan pada diri sendiri, sepertinya saya pun pernah punya episode kehidupan demikian beberapa tahun silam, bersama Power ranger..

Ya, masih saya ingat, saat itu sekitar kelas 4 SD. Saya terobsesi dengan para personel power ranger yang super keren (menurut saya dulu) dalam membasmi kejahatan dan membela yang lemah tanpa pandang bulu. Aksi mereka membuat saya deg-degan, terharu, dan terkagum-kagum. Terutama dengan si ranger merah-nya yang karismatik (kalau tidak salah). Saya berulang-ulang menonton video-nya tanpa bosan, bahkan theme songnya pun saya hafal! (walaupun sekarang sudah lupa) Hingga suatu hari, dengan menguras keberanian yang dimiliki, saya pun memohon kepada Ibu saya: “Mah..! aku pengen ketemu sama ranger merah! Aku pengen ke studio syuting power ranger itu Mah! Gimana caranya yah…!???” saya agak lupa ekspresi Ibu saya saat itu bagaimana, tapi sesungguhnya saya benar-benar serius (sedikit bercampur malu) memohon hal tersebut pada Ibu saya. hehe.. namun waktu pun berlalu, tanpa terkabulnya keinginan saya di alam nyata, dan keinginan(yang aneh) tersebut akhirnya hilang ditelan perkembangan diri di dalam masa..

seri ini yang dulu saya suka kalau tidak salah..

Dari kenangan tersebut, saya jadi sedikit mengerti mengapa sampai segitunya mbak-mbak itu ‘memperjuangkan’ apa yang mereka inginkan. Ya, karena saat itu adalah segalanya bagi mereka. Bisa jadi, setelah kembali ke kehidupan nyata dan menghadapi realita, mereka kembali pada ‘kesadaran’ sesungguhnya. Kesadaran tentang hidup, tentang adanya Tuhan satu-satunya yang layak disembah dan kita curahkan segala daya untukNya. Dalam hal ini saya mengambil fenomena yang terjadi di reality show ‘Supertrap’.

Supertrap memang selalu ‘niat banget’ dalam menjebak para target. Di antara banyak tipe jebakan, salah satu yang cukup sering adalah genre jebakan horor. Dengan properti-preoperti yang mereka lengkapi, suasana horor dan keanehan-keanehan pun dapat terbentuk dengan sangat baik. Lalu, apa yang terjadi pada para target yang ketakutan dalam jebakan tersebut? Reaksinya macam-macam tentunya. Ada yang teriak-teriak, melarikan diri, dan tak jarang juga yang berdzikir. Ya, berdzikir saudara-saudara. Segala ayat-ayat yang telah dihafal mengalir deras dari bibirnya dengan sepenuh asa. Ini dia yang saya maksud. Ketika seseorang benar-benar terdesak dan merasa tak berdaya, barulah ia kembali ‘merengek’ kepada Tuhannya.. memohon perlindungan dan meminta diselamatkan. Dan tentu Tuhan amat Pemurah, jika manusia dimintai tolong saat butuh saja mungkin akan ngomel: “idiih..dateng pas ada maunya ajah..” tidak demikian dengan Tuhan. Pintu ampunan dan kasih sayangNya senantiasa terbuka bagi para hambaNya yang sungguh-sungguh memohon, hingg ajal datang menjemput dan pintu taubat pun ditutup.

**Jadi, intinya apa yang saya ingin sampaikan dari ketiga refleksi di atas? Suju-power ranger-dan super trap??

Pertama, menurut saya, fenomena Suju adalah fenomena ekspresi. Seperti perkembangan anak. Anak akan mulai menangis jika memiliki sebuah keinginan, sebuah pesan yang ingin disampaikan. Saya coba menamakannya dengan ‘fase ekspresif tak terkontrol’. Menangis adalah satu-satunya ekspresi yang mereka tahu dan mampu. Namun setelah sekitar umur tiga tahun dan mereka pun menemukan cara lain untuk mengekspresikan apa yang ingin disampaikannya (selain dengan cara menangis), intensitas menangis mereka pun akan berkurang dengan sendirinya..

Semakin banyak tahu, semakin kita dapat membedakan sesungguhnya mana yang lebih penting bagi kita.. bagaimana agar dapat tetap mengekspresikan keinginan  yang menjadi fitrah dengan cara yang baik dan terkontrol. Buktinya adalah yang saya alami bersama power ranger-sang impian-..hehe. Seiring berjalannya waktu dan kita tambah mengerti apa yang sebenarnya penting dalam hidup ini, maka kita pun mulai bisa membedakan sesungguhnya apa yang berbobot dan tidak berbobot untuk dilakukan dalam hidup yang hanya sekali.

Bagi realita para remaja seperti di atas, selain kesadaran pada diri tentunya, juga dibutuhkan peran orang-orang terdekat yang telah ‘sadar’ untuk mempercepat ‘fase ekspresif tak terkontrol’ yang mungkin sedang mereka alami. Bukan malah mencibir dan meninggalkannya.. Why kenapa? Karena Tuhan masih tetap ada di hati mereka selalu. Buktinya ya seperti yang dilihat di Super trap! Walaupun mungkin saat ini kesadaran akan Tuhan tersebut baru bisa dibangkitkan dengan sedikit pendesakan (semacam rasa takut dan tertekan), tapi jika ‘ketegangan’ tersebut terus dipelihara dengan cara yang baik, pastinya suatu saat, ingatan mereka kepada Tuhan tak hanya muncul saat ketakutan saja, melainkan setiap saat, setiap langkah, merasakan pengawasan dan kuasaNya yang bekerja pada diri kita.

Maka, yang belum bangun, ayo kita bangun 😀 yang sudah bangun, ayo bangunkan lagi banyak orang-orang di sekitar kita. insyaAllah kita bisa, dan saya selalu optimis akannya.

*Thanks for Suju, Power ranger, dan Supertrap yang telah menjadi perantara hikmah bagi saya.. walaupun saya keberatan kalau diminta jadi fans atau penonton setia kalian.. 😛

Pemalang –alhamdulillah, akhirnya hujan juga-, 3 Mei 2012

Berbakti pada… -Keempat- Orangtua

Standard

22 April 2012, hari Ahad yang cerah!

Cuaca Pemalang memang sangat cocok untuk mengeringkan jemuran: panas dan berangin. Pernah saya mencuci mukena ba’da zuhur, kemudian saya sudah bisa memakainya kembali saat solat asar di hari yang sama. Luar biasa bukan? 🙂 begitulah Pemalang yang memiliki semboyan kota: Ikhlas → “Pemalang Ikhlas” → semoga orang-orang di dalamnya pun ikhlas 😀

Oke, kita cukupkan prolognya, saudara-saudara. Masih dalam suasana hari Kartini, maka tema kali ini adalah tentang keluarga! Family 🙂 Yah, mudah-mudahan ada pesan yang bisa dipetik, meskipun hanya satuuu saja. Sebenarnya ini adalah 2 point rangkuman dari seminar yang saya hadiri hari ini, yang bertajuk “Peran Perempuan dalam Pengarus Utamaan Keluarga”(ow..ow..), menghadirkan dua nara sumber yang spektakuler(^^) dan telah memberi oleh-oleh yang berharga bagi saya untuk dibawa pulang, direnungkan, dibagi, dan dilaksanakan kelak tentunya, insyaAllah. Dua pembicara tersebut adalah Dra. Zubaedah, seorang aktivis lembaga Aisyiyah dari departemen agama, dan dr. Maryati dari  Bidang Perempuan DPW Partai Keadilan Sejahtera Jateng (mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama, gelar, dan amanah).

2 point yang dimaksud adalah terkait fungsi keluarga, dan berbakti kepada keempat orang tua..

Markisim ←(‘mari kita simak’)

*****

“Pengarus Utamaan Keluarga” kata-kata yang tak biasa, tapi sangat mengaplikasikan tata bahasa Indonesia. Pertama kali saya membacanya, saya kira salah ketik atau bagaimana, ternyata artinya adalah “Peng-arus utama-an Keluarga” → frase “arus utama”  yang diberi imbuhan “Peng-an”.. baru saya mudeng. Jika diterjemahkan kepada bahasa inggris, kira-kira menjadi “Family Mainstream”.

Dari sini kita dapat membayangkan sebuah keluarga yang menjadi poros peradaban. Kebijakan-kebijakan di tengah masyarakat yang memperhatikan aspek pengokohan keluarga sebagai tonggak utama membangun kesejahteraan. Ya, memang perbaikan diri harus diikuti dengan perbaikan keluarga. Keluarga yang kokoh dan berkualitas akan berperan penting untuk mencetak generasi yang kokoh dan berkualitas pula. Dari lingkaran terkecil masyarakat, dan madrasah pertama seorang manusia di muka bumi, ‘keluarga’, inilah sebuah arus dahsyat akan tercipta.

Sangat bisa dinalar, bukan? Ketika pembinaan diri di dalam keluarga beres, maka masing-masing keluarga itu akan menciptakan RT yang beres, lalu RT-RT yang beres akan membentuk RW-RW yang beres..pun demikian seterusnya, kelurahan, kecamatan, kota, provinsi, negara, dan akhirnya dunia yang beres.

Mantap sekali.

Dan insyaAllah untuk Indonesia tercinta, kita tak ingin ini hanya sebatas wacana. Generasi Rabbani yang pernah berkilau dalam kejayaannya, insyaAllah sesuai janjiNya, akan kita raih kembali, walau bisa jadi setelah kita tak lagi menginjakkan kaki di bumi. (tidak juga di bulan, hehe)

Ada fungsi-fungsi keluarga secara mikro dan makro, yang harus kita optimalkan. Dalam fungsi mikro, yakni:

1. Memelihara Fitrah

Tentu yang dimaksud adalah fitrah manusia sebagai makhluk yang Allah anugerahkan rasa kasih sayang. Anugerah yang indah ini perlu dipelihara dengan kebaikan-kebaikan yang bersemi di dalam keluarga. Misalnya nih, seorang istri hendaklah merawat dirinya karena Allah, untuk menjadi istri yang menyejukkan mata dan hati sang suami. Dan hal-hal lainnya..

2. Memperoleh keturunan

Data demografi dunia berbicara, bahwa jumlah umat Islam kian bertambah dan akan terus bertambah. Di Inggris, Amerika, Rusia, juga di negara-negara Eropa. Kenapa? Karena umat Islam memiliki banyak keturunan. Semoga dengan ilmu yang Allah anugerahkan, kita dapat mencetak generasi penerus yang tak hanya Rasulullah banggakan karena banyaknya jumlah, tapi juga Rasulullah beri syafaat karena kontribusinya di jalan da’wah serta kebaikan.

3. Mendapat kondisi SAMARA

Sakinah, mawaddah, warohmah..

Sakinah yang meliputi kejujuran, ketaqwaan, dan keimanan kepada Allah. Landasan ‘karena Allah’ inilah yang akan mengokohkan hubungan keluarga hingga kelak di akhirat, dan melahirkan mawaddah wa rohmah. Mawaddah yang merupakan kasih sayang, yang ditumbuhkan dengan taburan kebaikan, misalnya dengan kejutan-kejutan manis kepada pasangan. Serta wa rohmah, yang berkaitan dengan kewajiban, baik bagi suami yang menafkahi, mendidik, dan menjadi teladan, maupun bagi istri dalam mena’ati suaminya

4. Memperoleh Pendidikan

Setiap anggota keluarga memiliki hak yang sama terkait pendidikan. Seorang anak mendapatkan pendidikan pertama di rumah, bahkan semenjak ia dilahirkan di muka bumi, Ia telah diajarkan tentang identitas diri: sebagai seorang laki-laki, atau perempuan, dengan memberinya nama yang baik. Pun sama halnya dengan orang tua, terus belajar agar dapat menjadi bagian dari generasi Robbani 🙂

5. Terimplementasikannya sosialisasi atau pewarisan nilai-nilai

Ketika menjadi seorang anak (dan tentu akan selamanya menjadi anak dari orang tua kita^^), kita dibesarkan dengan beragam nilai dan budaya. Seiring bertambahnya usia, asupan nilai-nilai ini tak terbatas dari dalam rumah tangga saja, hingga kita menemukan nilai-nilai yang menurutnya ingin diterapkan saat kelak berkeluarga. Pewarisan nilai inilah yang perlu dijaga agar benar-benar terlaksana dengan baik.

6. Memperoleh perlindungan

Rumah adalah tempat seorang anak pulang kemudian merasa aman, tempat seorang ayah yang lelah sepulang kerja mendapat kehangatan, serta tempat seorang ibu untuk mencurahkan segala kemampuan dalam bersama membangun peradaban 🙂

7. Terpenuhi kebutuhan fisik dan ekonomi

Ikhtiar yang optimal untuk perkara yang satu ini tentunya ya, saudara-saudara 🙂

Sedangkan untuk fungsi makronya adalah: MEMBANGUN PERADABAN 🙂

Memang kesemua fungsi diatas adalah idaman yang menjadi mimpi seluruh keluarga, saya rasa. Mari kita hiasi dengan Ikhtiar, karna ingat, Allah akan selalu melihat proses dan kesungguhan tiap-tiap diri kita 🙂

Nah, kini poin kedua! Sebenarnya mungkin kita sudah sering mendengarnya, dan seolah-olah telah terbentuk stigma runcing sedari zaman nenek moyang kita tentang perkara yang satu ini: Mertua dan Menantu! (ow..ow..) tenang saudara-saudara, saya sekadar akan menyampaikan kabar gembira, bahwa ternyata ada lho, jurus jitu untuk menjalaninya dengan penuh makna. Dan saya sebatas menyampaikan pengalaman sang pembicara tadi, karena saya sendiri juga belum pernah punya pengalaman.hehe. Kuncinya adalah simpel saja.. Beliau menceritakan tentang nasihat ibunya saat hendak menjelang pernikahan.  Kira-kira seperti ini:

“jangan lupa Nduk, seorang istri itu ‘milik’ suaminya, sedangkan seorang suami itu tetap ‘milik’ ibunya. Ibunya lah yang telah membesarkan, mengasuh, dan mendidiknya dengan penuh cinta. Ibaratnya, ia telah menumbuhkan sebuah benih, lalu ia besarkan, rawat, diberi asupan cairan dan sinar mentari yang memadai.. hingga, kini benih itu telah berbunga, kemudian berbuah.. dan saat hendak memetik buah itu, ia mengajakmu untuk memetiknya bersama.. jangan sampai kau biarkan ibu dari suamimu tak bersama memetik buah yang telah ranum itu..”

Ya, pada akhirnya memang sederhana, saudara-saudara. Dengan mencamkan satu hal dalam diri kita, yakni: “semangat berbakti pada mertua, Lillah”^^9 yang juga tentu adalah orang tua kita. Dan sebenarnya saya tidak terlalu pas dengan kata ‘mertua’, kenapa perlu dibedakan dengan ‘orang tua’ ya? Kalau sudah menikah, bukankah ke-empatnya adalah orang tua kita? Walalupun ya tetap tidak dapat dikatakan sama plek. Tapi hormat kita, kasih sayang kita, dan bakti kita insyaAllah tak berbeda.

So, di jalan pulang seminar ini saya berpikir.. jika suatu saat anak2 kita sudah besar dan telah menikah, mungkin doa yang kita lantunkan akan sedikit berubah seperti ini ya..:

“Ya Allah, jadikanlah anak kami menjadi hamba yang Ta’at padaMu, mengikuti RasulMu, dan berbakti pada keempat orangtuanya karenaMu..” hehe.. masa yang masih jauh banget ya, sepertinya.. 😛

Mudah-mudahan kita semua senantiasa dikuatkan dalam memegang niat awal membangun rumah tangga di jalanNya, menjaga setiap langkahnya dengan kesabaran dalam taat yang meningkat, serta diberi kemampuan untuk berlayar di samudera luas yang akan penuh ombak, angin, petir,, dan juga pelangi kelak! dengan bahagia karenaNya selalu 🙂 aamiin

“Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia….” (HR Al Hakim)

Pemalang, akhir April 2012 –3 bulan kurang menjelang bulan Ramadhan—

バティックTour !

Image

今月の半ばごろ、大学の行事の都合でNAISTからの日本の方と一緒にすごす機会がありました!ガイドと言っていいほどのプロじゃないのですが、一緒にインドネシアの文化や生活を見に1日間ジョグジャカルタとその隣の街、ソロを案内させて頂きました!「バティック博物館」を見に行ったのですが、結果的にはまだまだ知らなかったインドネシアの文化を自分も学び、(本物の)ガイドのお兄さんの説明を聞いて「へぇ~知らなかったぁ~」などという発言いっぱい!の自分にとっても得た知識沢山のツアーとなりました(笑)。今回はそんな一日のことを書かせて頂きたいと思います!

"welcome to Solo"

街の名前は「ソロ」または「スラカルタ」。私の生まれた街でもあったりします。「SPIRIT OF JAVA」とも呼ばれていて、文化の味わいが濃く、お城の政府はもう実行されていないが今でもその頃の文化の跡は街の所々で、そして人々の暮らし方の中で引き継がわれています。(http://tentangsolo.com/)

ここがバティックミュージアム!中では写真撮り禁止なのでここで紹介できないのが残念です。

"Batik Museum"

バティックショップもありました

 

 

 

 

 

 

 

 

 

中にはおよそ6千枚程のコレクションがあり、それぞれのバティックの由来や伝統なども細かく説明されました。その一つ一つが歴史上の出来事(戦争時代や独立後など)に大きく影響されてる事は言うまでもありません。驚くことに、バティックの色や模様などには深い意味があったりしたのです。着方にもそのバティックの出身地、それぞれに異なる方法がありました。

お城に住む王様の家族だけ着る事が出来るバティック、庶民が着るバティックなどといろいろと区別がありました。

ミュージアムを回り終えたその先にはプロダクションハウスがあったのです!沢山の方がそこで働いていました。

沢山!

一つずつ丁寧に・・

挑戦してみました!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

製作時間にはいろいろとバリエーションがあるのですが、蝋をつかい何段階のステップがあり、本当に手の入ったものは一枚のバティックに1-2ヶ月ほどの長い時間をかけて製作するのだと伺いました。塑像できないな~。

いろいろ回り、お腹も空きました!そこで、お菓子を買ったのですが、それが可愛かったのです!

「芋ケーキ」

バナナフライ+アイス

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ケーキは芋から作られていました。奥のほうはバナナフライ、バナナを粉にかけ、揚げたものです。すごく国民的で身近なお菓子に工夫を入れたものだと思いました。

そしてスラカルタを後に、私達はジョグジャカルタに向かいました。目的はプランバナン・テンプル!夜のライトアップされた遺跡を眺めながらのディナーは最高でしたよ~。プランバナンの歴史(http://www.orientalarchitecture.com/indonesia/yogyakarta/prambanan.php)などなど(http://www.historicalsitesoftheworld.com/prambanan)はこちらのリンクにて!

空の下ディナー^^

なんだか少しぐちゃってますが、テンペ、サテ(焼き鳥)、焼きそば、お魚、ナシゴレン(チャーハン)、スープ全部一皿に詰めました・・。でもおいしかったです!!

大盛り!!

いい一日でした^_^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

素晴らしい一日でした。自分の国の文化をもっとよく知り、これからも大切にしたい・守りたいと心から思った日です。3年ぶりに日本の方と過ごせたこともとてもスペシャルでした。

Pemalang Story #1: PeDe!

Standard

Bismillah…

keterangan di pojok kanan bawah laptop saya telah menunjukkan waktu pukul 22.35. Walau badan sudah pegal-pegal dan ingin segera terbang ke pulau kapuk, rasanya ada hal yang ingin saya bagi hari ini juga. Selagi masih teringat hangat, baik tentang peristiwa-peristiwa maupun rasa yang timbul darinya.

Hari ini adalah hari pertama saya jaga UGD a.k.a. Unit Gawat Darurat sebagai dokter jaga. Sebagai dokter yang memegang tanggungjawab terhadap diagnosis dan penanganan pasien yang datang ke UGD hari itu. Walaupun ada rekan sejawat yang menemani saya jaga, dan teman-teman koas yang kita belajar bersama disana, tentu ‘pressure’nya jauh berbeda ketika kami berada di posisi ‘dokter jaga’. Tapi saya sangat bersyukur, Alhamdulillah, tim di UGD RS ini bekerja sangat kompak dan cekatan. Para perawat, administrasi, asisten teknis pengantar ke bangsal, hingga cleaning service dan keamanan. Terasa nuansa saling menghargai disana, sehingga komunikasi pun dapat berjalan dengan baik. Itu juga salah satu faktor yang membantu menentramkan hati saya dalam jaga UGD kali ini, dan mudah-mudahan juga seterusnya.

Shift sore dimulai pukul 14, berakhir pukul 21 malam. Ruangan UGD berukuran kurang lebih 25x15m, meja panjang tempat standby petugas, menghadap ke seluruh bed tempat merawat pasien. Ruangan tersebut terbagi menjadi 4 bilik: bedah, non-bedah, ruang doa, dan..satu lagi agak lupa. Masing-masing bilik dipisahkan dengan korden besar dan tebal, yang dalam kondisi kosong selalu disingkap hingga ruangan terlihat lebih lega. Space untuk tiap pasien pun cukup longgar. Terpisah sedikit ke dalam, terdapat ruang bedah minor  yang cukup luas dan ber-AC. Lengkap dengan lampu besar operasi dua buah. Tujuh jam yang penuh penghayatan dan konsentrasi saya jalani disini.(cie..). Satu hal yang selalu muncul saat dihadapkan dengan pasien lengkap dengan keluhannya yang beragam, mulai dari hilang kesadaran, anak-anak sesak nafas, nyeri dada, berdarah-darah, hingga yang diam kebingungan, adalah perasaan: “masih harus belajar banyak!! Terus dan terus belajar!!”.

Benar kata seorang guru di sebuah tayangan yang saya tonton di Youtube. “mempelajari medis ini, sangat banyak hal yang harus kau hapalkan. Maka, disanalah pentingnya ilmu-ilmu dasar. Ilmu-ilmu itu akan membantumu untuk menata apa yang hendak kau ingat. Misalnya ada 100 hal yang mau kau hafalkan, daripada kau bulat-bulat menghafalkan 100 hal itu, sebaiknya kau membuat ‘rak’ berkuran 10×10 yang berisi 100 muatan. Dengan menghafal isi 10 rak mendatar dan 10 rak berdiri, kau pun dapat mengingat 80 lainnya. Nah, ilmu dasar itu yang diperlukan untuk membuat rak tersebut!” –> benar sekali!! Ini adalah tentang pola pikir, atau alur berpikir, yang dibentuk oleh pengetahuan bagaimana tubuh manusia itu bekerja. Memang butuh latihan, dan belajar, terus dan terus.. never stop..

Pertama adalah pola pikir tersebut, hingga dapat melahirkan keputusan dan tindakan yang terbaik untuk membantu pasien. Yang kedua dan tak kalah pentingnya adalah ‘kepercayaan diri’. Belajar untuk mengambil keputusan, melakukan tindakan, dan juga berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya. Lagi-lagi memang tentang jam terbang dan keyakinan. Namun bagi diri saya yang masih awal, ‘meluruskan niat’ adalah senjata yang cukup ampuh untuk melawan rasa takut akan apa yang sedang dihadapi. Belajar untuk bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan. ketika ada yang bertanya “mengapa kamu mendiagnosis ini?” “mengapa kamu memberikan terapi ini?”, saya harus siap dengan jawaban, dan sudah harus siap juga untuk menerima masukan. Tak berbeda dengan segala perbuatan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya satu per satu. Dan untuk mempertanggugnjawabkan semua itu akan berawal dari niat. Yang kemudian dijalankan dengan tata cara yang tepat, harus tepat.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik. Setiap perjumpaan dengan pasien adalah suatu sarana untuk mengetahui apa yang sebelumnya belum diketahui, dan memperbaharui apa yang sebelumnya sudah diketahui. Dan proses tersebut adalah sebuah hal yang sangat nikmat dan harus disyukuri, percayalah. Di dunia manapun kita berkecimpung, pada hakikatnya adalah sama. Bekerjalah dengan hati, untuk menemukan beribu arti.

Terakhir, ada sebuah tulisan Mario Teguh yang cukup memotivasi, semoga untuk Anda juga 🙂

Projek Pribadi hari ini: MENJADI PRIBADI YANG LEBIH PERCAYA DIRI

Sahabatku yang letih dengan tidak cukupnya rasa percaya diri untuk menghadapi kehidupan yang tidak mugak ini, katakanlah ini sebagai kalimatmu sendiri..

Tuhan yang Maha Perkasa,

Terimakasih atas pengertian bahwa:

Rasa percaya diri adalah rasa yakin atas kesungguhanku untuk melakukan yang telah kuniatkan untuk kulakukan, untuk menyelesaikan yang menjadi tugasku, dan untuk bertanggung-jawab atas dampak apa pun dari tindakanku.

Hari ini, aku tak mungkin hidup gagah dalam rasa percaya diri, jika aku tak mempercayai diriku sendiri. Aku akan menghentikan kebiasaan membohongi diri sendiri, karena lama kelamaan diriku akan belajar untuk tidak mempercayaiku.

Dan itulah yang disebut ‘tidak percaya diri’.

Percaya diri, adalah mempercayai janjiku sendiri, bahwa aku akan mendahulukan yang penting, dan menghindarihal-hal yang tidak menguatkanku.

Aku tak mungkin menghormati diriku, jika aku tak mempercayai dirikusendiri. Dan pasti itulah alasan bagi kurangnya penghormatan dari orang lain kepadaku.

Tuhanku, jika aku ini jiwa biasa yang tak penting bagiMu, maka tidak mungkin Engkau menggerakkan demikian banyak orang dan kejadian untuk menuntunku menemukan keindahan yang telah lama terajut dalam diriku.

Terimakash Tuhan, kini aku menyadari bahwa aku bukan jiwa biasa.

Semoga Engkau menguatkan hati dan pikiran dari kekasihMu yang kecil ini, untuk menjdai pribadi yang jelas dengan apa yang kumau, yang tegas memulai yang harus kumulai, dan yang tabah menyelesaikan yang harus kuselesaikan. Mulai hari ini, aku tidak akan berjanji bahwakn kepada diriku sendiri –kecuali aku bersungguh-sungguh untuk melaksanakannya.

Tuhanku Yang Maha Kaya,

Bahagiakanlah aku dalam kehidupan yang damai dan sejahtera yang mensyukuri diriku yang setia kepada niat dan pekerjaan yang baik.

Aamiin

my precious freund (*^^*)

Pagi Pemalang, tanah juang (^^)v

3-4 Maret 2012

Coral Questions ~contemplating me~

Standard

Bismillah…

curious..

Berjalan di antara hidup-mati seseorang. Merasakan lebih dekat bagaimana setiap komponen dalam tubuh manusia bekerja. Komponen tersebut yang berada dalam letihnya, dalam kesehariannya, serta dalam peranannya sebagai satu bagian dari masyarakat besar. Itulah dunia medis. Tanggung jawab ibarat sebuah pikulan besar yang tertanam di pundak, kemana pun dan kapan pun akan terus dibawa. Sehingga jiwa yang lapang pun menjadi kebutuhan primer bagi sang pemikul untuk menopang beban tersebut. Agar hidupnya tak terlindas oleh berat bebannya. Ya, jiwa yang mampu menempatkan segala pertanyaan dan jawaban alam ini pada tempat yang sesuai.

“apa arti kehidupan ini?”

“apakah kematian dan bagaimana setelah manusia meninggal?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang harus sudah dimiliki jawabannya, dan tak boleh dilupakan, apa pun yang menimpa diri kita.

Setiap satu jiwa meregang di hadapan mata, sembari tubuh ini berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan.

Setiap kali merasakan ruang yang sama, yang disana hadir malaikat pencabut nyawa, walau mata tak bisa memandangnya.

Setiap kali berdiri pada posisi “orang lain” bagi sang almarhum dan keluarganya.

Setiap kali itu pula, seolah ada batu bata yang tersusun di dalam relung jiwa.

Satu demi satu. Batu bata itu seperti menyusun sebuah tembok,  yang membentengi jiwa ini dari kenyataan yang sedang dihadapi. Dan lama kelamaan, ia pun meredam getaran-getaran yang dahulu muncul setiap menyaksikan dahsyatnya sebuah “kematian”.

Sakit kah saya..?

Waktu pun berlalu tanpa saya dapat menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Namun ada sebuah penemuan yang rasanya cukup berarti. Setelah sekian lama, ternyata batu bata itu menyusun sebuah ruang khusus sebagai tempat penyimpanan sebuah rasa yang sulit diungkapkan dengan kata. Tanggung jawab, kesedihan, ketakutan, optimisme, serta harapan berkumpul menggumpal menjadi satu di ruang itu. Ia pun sepertinya terbawa hingga alam bawah sadar, terkadang memberi sinyal dengan mimpi-mimpi berkesan yang acap kali menghadirkan gambaran yang begitu “riil” tentang bagaimana dahsyatnya sebuah “kematian”. Dan mimpi-mimpi itu pun selalu meninggalkan pesan peringatan tentang sebuah kepastian yang akan dihadapi setiap makhluk Allah yang bernyawa. Lebih gamblangnya adalah kepastian akan “kematian” bagi “saya”, “Anda”, dan “kita semua”.

Mungkin saya memang sakit..

Karena Allah menciptakan semua berpasangan, maka hadir pula jawaban sebagai pasangan dari pertanyaan. Namun, tak mesti kata yang bertanya menghasilkan buah jawab kata pula.

“Rumah adik dimana?”

“Apa menu makan siang  hari ini?”

“Orang tuamu astronot ya?”

Telah siap jawaban bertengger di hadapan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Namun tak jarang juga, hati manusia akan bertanya,

“apa bekal saya untuk kehidupan setelah mati nanti?”

“Bagaimana saya kelak mempertanggungjawabkan amal-amal yang telah saya perbuat?”

“kapan kematian datang menjemput saya?”

Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut memiliki jawaban?

Saya dengan yakin akan menjawab: “ya”. Semua pertanyaan itu memiliki jawaban. Namun bisa jadi tidak dalam “kata”, melainkan dalam “makna”. Begitu banyak pertanyaan di dunia ini yang membuat manusia lebih bergairah menjalani hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan yang akan terus dan terus dipertanyakan sepanjang masa. Seperti “akan menjadi manusia seperti apakah saya?”, “apakah kelak saya meninggal dengan keadaan yang baik?” kalau boleh saya menamakan, ini seperti….

“Coral Questions”!

Pertanyaan mendasar yang dimiliki setiap manusia. Pertanyaan yang memiliki sebuah jawaban berupa energi. Energi macam apa? Itu sesuai bagaimana jiwa manusia tersebut mengolahnya hingga menjadi sebuah jawaban.

aha! That’s life!

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu akan bertemu dengan jawabannya, kelak di hari yang tepat. Hidup ini adalah jalan untuk membuat jalur bagi para pertanyaan itu menemukan jawaban terbaik di akhir perjalanannya.

Perjalanan mencari jawaban untuk setiap pertanyaan= Life is so simple

Tapi sekali lagi, jawaban itu tak selalu dalam bentuk “kata”. Ia barangkali menyelinap di sendi-sendi kecil kehidupan kita. Dalam aktivitas harian kita. Bagaimana kita dapat terus menelisik ke setiap makna di dalamnya. Itulah mengapa Allah ciptakan kita lengkap dengan hati dan akal. Satu hal yang mutlak dibutuhkan adalah iman. Jika iman sudah digenggam erat, yakinlah jawaban itu akan hadir, dalam perjalanan kita mencarinya.

Mudah-mudahan ia adalah dalam bentukan  yang luarbiasa indahnya.

Dalam hari yang masih banyak canda dan tanya,

Pemalang 1 Maret 2012