Warna-warni Ramadhan @hari27 : Saya dalam Milky Way

Standard

Bismillah…

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda(kebesaran Allah)bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau alam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”(QS Ali Imran 190-191)

10 hari terakhir di bulan penuh berkah akan segera usai.. baru saja sore kemarin saya mendapatkan SMS dari seorang sahabat yang isinya tentang malam Lailatul Qadar..

“Menurut hadits shahih Imam Muslim (No.930) bahwa 3x RAsulullah saw berkata “malam Lailatul Qodr jatuh pada malam ke-27”.. malam ini adalah malam ke-27. Semoga dapat memaksimalkan Ramadhan di detik2 terakhir 🙂

Wallahu alam”

Bagaimana pun kita semua ummat Islam di dunia melewati malam itu, semoga tiap doa yang terpanjat, tiap rintih permohonan ampun, dan tiap kerinduan akan perjumpaan denganNya yang berlabuh dalam sujud panjang, akan menuai keridhaan.. tak lain dari Allah semata.. aamiin.

Pagi 27 Ramadhan selepas shalat subuh. Sengatan kantuk begitu kuat menggoda.. didukung hawa kost yang sunyi selepas ‘kegaduhan’ harian menjelang dan saat sahur tadi. Tapi tekad sudah telanjur berkobar, untuk tetap mempertahankan mata jauh dari terpejam..

Greekk…grekkk….. saya buka pintu garasi kost, niatan awal sekadar menyambut udara pagi sambil menyapa langit. Namun rayuannya ternyata tak kalah menggoda dibanding kantuk, membuat saya mendorong motor keluar, menghangatkannya sebentar, lalu membuat ia menemani saya melaju menuju arah Selatan. Ya, arah Pantai! 😀

Pukul 05.30, Subhanallah jalanan sudah cukup ramai dengan orang-orang berolahraga. Beginilah salah satu obat malas! Mengingat-ingat bahwa dunia ini terus berputar, orang-orang aktif beredar, menjelajahi dunia untuk mencari kecukupan dalam berbagai misi dan tujuan. Satu sama lain kita adalah inspirasi, hikmah berjalan yang diperuntukkan hanya untuk mereka yang mau memandang dengan akal dan hati.

Menepi sejenak memandang perahu nelayan,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

bertemu tangki minyak raksasa, hingga sampailah saya pada pantai Selatan, Teluk Penyu namanya!

Setelah mengitari jalan panjang sejenak, saya putuskan untuk duduk di sebuah bangku yang terbuat dari bambu. Saya juga ingin menjadi ‘Ulil Albab’ atau ‘orang yang berakal’ seperti disebutkan Allah SWT dalam Quran Surat Ali Imran di atas.. hehe..

Gagahnya nyanyian ombak membuat hati terbelai lembut, menyaksikan kehadiran sang raja pemancar cahaya, penghulu siang.. Penghuni langit fajar mulai berpamitan, berharap pertemuan di sore lain yang tak kalah syahdunya. Matahari telah datang..

 

***

Bolehlah saya terbang sejenak pada peristiwa di satu masa.. 13,67 miliyar tahun yang lalu lamanya! Ya, Peristiwa Big Bang terjadi saat itu. Setelah dentuman besar tersebut, terbentuklah bintang-bintang yang kemudian berkumpul menjadi gugusan bintang, mengisi ruang-ruang di langit yang terus berkembang hingga sekarang. Kemudian, 5 miliyar tahun lalu di ‘kampung’ Milky Way (atau nama kerennya: Galaksi Bimasakti) yang dihuni tak kurang dari 200 miliar bintang, lahirlah Asy-Syams.. sang matahari.

Letak rumahnya sangat strategis! Jika diibaratkan, ia seperti berada di gardu pandang yang terletak diatas highway, dimana terjadi drama pertautan 200 miliar-an bintang di bawahnya! Banyak bintang pembawa bom nuklir yang wara-wiri dengan kecepatan tinggi. Kadang saling bertemu, kadang saling meledakkan diri! ‘Kecamatan’ tersebut bernama “Glactical Habitable Zone”(GHZ), zona yang sangat tepat untuk para ilmuwan merenungkan tentang alam, menjadikan langit bumi kita sebagai laboratorium penelitian dengan cabang ilmu astronomi, kosmologi, astrobiologi dan lainnya dengan mudah!

Subhanallah.. ini bukan sebuah kebetulan yang sangat menguntungkan.. melainkan ada rancangan Mahadahsyat yang menggariskannya, dengan sangat rapi.

“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di Langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang-(Nya).” (QS Al Hijr:16)

Di ‘Kecamatan’ GHZ ini jua bumi kita bertempat tinggal. Alasan strategisnya wilayah ini yang lain adalah karena ia kaya akan unsur besi (Fe) dan Nikel (Ni), hingga bumi kita dapat membentuk selubung magnetosfer -sebuah perisai magnetik- yang menjaga para penghuninya dari radiasi dan badai ledakan bintang matahari.

Jika GHZ adalah tingkat ‘Kecamatan’, maka ‘Kelurahan’-nya adalah wilayah yang dinamakan “Circumstellar Habitable Zone”(CHZ). Yakni zona dalam tata surya kita yang tepat hunian. Setiap satuan ‘RW’ hingga ‘RT’-nya, tertata dengan sangat rapi dan penuh kalkulasi.

Kita tahu Venus, yang memiliki efek rumah kaca tak terkendali, hingga suhu meningkat sampai beberapa puluh-puluh kali? Hal tersebut dapat terjadi pula pada planet bumi kita, jika saja jarak bumi kita ke matahari lebih dekat ‘hanya’ 5% saja. Hmm.. Kita juga mengenal Planet Mars yang pernah mandul. Hal tersebut terjadi karena hawa dingin dan siklus es akibat tumpukan awan karbondioksida di lapisan atmosfer bagian atas planet. Dan lagi-lagi hal tersebut juga dapat menimpa bumi kita tercinta, jika saja Allah tak meletakkan bumi 20% lebih dekat dengan matahari.. semua tunduk pada aturanNya, untuk mengorbit pada jalur yang telah Ia tentukan..

Ketika bumi berusia kurang lebih 500 juta tahun, bulan terbentuk. Sejarah terbentuknya sangat dramatis, tentu Mahakarya Sang Pencipta yang tahu segalanya..

Kali ini Allah memulai skenario pembentukan bulan dari sebuah asteroid seukuran Planet Mars. Dengan penuh kekuatan, asteroid ini menghantam permukaan bumi! Menyebabkan beberapa kulit bumi robek dan terlepas ke angkasa. Kulit-kulit bumi yang terhempas ke angkasa ini turut berputar mengelilingi bumi karena gaya gravitasi bumi. Hingga akhirnya robekan-robekan tersebut bersatu, dan terbentuklah satelit yang kita namakan bulan.. jadi ternyata bumi dan bulan adalah saudara lama, yang dulunya adalah satu bagian!

Selain itu, karena hantaman dahsyat ini, bumi juga kini memiliki sudut kemiringan dalam berotasi sebesar 23,5o. Sudut ini mengandung makna yang sangat mendalam. Mungkin semasa sekolah kita pernah mempelajarinya, bahwa kemerataan sinar matahari yang menyinari bumi, salah satunya adalah karena adanya sudut ini. Jikalah bumi tetap dalam posisi tegak lurusnya berotasi mengelilingi matahari, maka tak akan ada pembagian siang dan malam di bagian-bagian bumi tertentu. Yang satu mendidih karena tak pernah malam, yang satu lagi membeku karena tak pernah siang. Hmm…

Betapa dahsyatnya perhitungan yang telah Allah siapkan agar manusia mau berpikir dan merenungkannya,

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui…”(QS Ad-Dukhan :38-39)

***

Byuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrr………

 

Cling!

Kembali ke Teluk Penyu..

Tak terasa matahari telah meninggi, pantai semakin ramai oleh para penikmat segarnya udara pagi 🙂

Rasanya manusia terlalu kerdil untuk menyombongkan diri. Dan terlalu malas jika tak mau berpikir. Bahwa semua tercipta agar kita selalu ingat padaNya. Dimana pun, kapan pun, dalam kondisi apa pun, karena kita selalu berada di bawah langit yang sama, bumi yang sama.. matahari, bulan, dan bintang, terlalu sayang jika tak kita serap hikmah yang mereka pancarkan dengan penuh ketaatan padaNya.. bermiliar tahun mereka telah lahir dari ketiadaan. Seolah mudah saya ungkapkan 500 juta tahun, 4 miliar tahun, 13 miliar tahun.. padahal jatah kehadiran kita di muka bumi ini, tak bisa dibandingkan betapa singkatnya.. ah.. bahkan kita pun tak dapat membayangkan betapa lamanya 2011 tahun itu..

Jika hari ini Allah masih beri kita kesempatan untuk menatap langit-Nya yang menyimpan berjuta misteri dan sejarah..

Jika pada siang ini Allah masih izinkan kita merasakan kehangatan tak mematikan dari sang surya..

Jika pada malam nanti masih bisa kita menghitung hari dengan bentukan bulan yang menjelang purnama..

Dan jika kita tengah tenggelam dalam pesona saat taburan bintang menyapa..

Semoga Allah jua lah yang kita ‘tatap’ disana..

Dengan panca indera kita mengais makna, dengan akal kita temukan jawaban, dan dengan hati kita muarakan segalanya.. hanya kepada Allah semata 🙂

“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta, ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)-nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana..” (QS Luqman: 26-27)

Alhamdulillah…

Inspired by :

Al Quranul Karim

Perjalanan Akbar Ras Adam, karya Ir. Agus Haryo Sudarmojo

Sunrise di Teluk Penyu, Cilacap 🙂

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s