Tas Ransel di Kampung Pemulung

Standard

Katakanlah :

Wahai Subuh, dalam keindahanmu aku dibuat mengerti, bahwa cara terbaik untuk memperpanjang waktu, bukanlah mengulur batas waktu, tetapi menyegerakan waktu mulai. Semakin segera aku memulai, akan semakin panjang waktuku, dan dengannya semakin banyak yang dapat kuselesaikan.

Aku menjadi

Bukan karena yang kurencanakan, tetapi karena yang kuselesaikan

Tuhan, kaykanlah hidup kami, Amien.

_Mario Teguh_

 

“hmm… inikah hikmah kopi yang disuguhkan tadi…”

monolog dalam hati saya saat melaju menembus udara malam Jogja yang sudah berkurang tingkat keramaiannya. Segelas kopi susu dan jajanan kripik singkong balado (yang kini bertahta di dalam tas ransel saya) mengantar kepergian kami kurang lebih 15 menit yang lalu dari sebuah kampung.

“Kampung Pemulung” begitu biasa kami menamakannya, dan memang begitulah adanya. Kampung yang terletak di daerah Ledhok Timoho, dihuni kurang lebih oleh 50 keluarga.

Malam ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki disana. Yang pertama dulu adalah pada bulan Ramadhan kemarin, bersama teman2 angkatan di FK, saat membuka pasar sembako murah dan pelayanan kesehatan. Kali ini bersama seorang teman dari Fakultas Farmasi, diberi kesempatan untuk saling berbagi bersama ibu-ibu disana tentang pola makan Rasulullah SAW.. Saya yang baru pulang dari ‘Kuliah Kerja Kesehatan Masyarakat’(K3M, semacam KKN) di Cilacap pekan lalu, berharap dapat bertemu lagi dengan suasana ramah di tengah masyarakat sesungguhnya, sebagaimana saya dan teman-teman rasakan saat K3M. Senang tentunya 🙂 Dan memang itulah juga yang saya dapatkan disana, alhamdulillah..

Ada sebuah mushola dan semacam balai kegiatan yang sering digunakan oleh para mahasiswa yang mengadakan kegiatan sosial di kampung ini. Ukurannya kurang lebih 8×8 meter persegi saja, namun saya bertemu dengan sosok-sosok luar biasa, yang rasanya telah membuat ruangan tersebut terasa lebih terang dan ‘hidup’.

Saat itu waktu sudah menjelang malam, pukul 19.30 kurang lebih. Saya bertemu dengan dua orang mbak-mbak, yang satu asyik bercengkrama dengan adik-adik TPA yang dibinanya, dan yang satu sedang menggendong sambil menenangkan seorang adik yang menangis tak henti-henti. Juga terlihat dua orang mas-mas lengkap dengan sarung dan pecinya, yang satu sedang mengajarkan doa setelah wudhu kepada adik-adik putra, dan seorang lagi sedang mengajar pelajaran di balai kegiatan yang terpisah kurang lebih lima meter dari mushola yang sedang ramai.

Di sudut lain dari mushola, saya menemukan seonggok(?) tas ransel hitam tergeletak. Tas tersebut tampak penuh, rasanya sangat identik dengan sosok mahasiswa. Biasanya mereka melengkapi isi tas ranselnya dengan berbagai amunisi: mulai dari dompet, leptop, buku catatan kuliah, text book, buku bacaan saat nganggur, jas lab, mukena bagi yang muslimah (atau mungkin sarung bagi yang muslim ya?), beberapa flashdisc (bahkan hard disc!), bolpoin dan spidol tanpa tempatnya, folder berisi kertas-kertas untuk rapat organisasi, hingga snack yang sudah basi… (Uups! insyaAllah tidak lah ya..hehehe…) rasanya isi tas tersebut jarang digonta-ganti, agar setelah kegiatan perkuliahan di kampus, mereka dapat meluncur ke tempat pembelajaran berikutnya (ntah di kampung pemulung, TPA, masjid, tempat rapat, ataupun pasar?) tanpa harus mengambil keperluan-keperluannya terlebih dahulu di kost nya masing-masing. Demi mengefektifkan waktu di tengah mobilitasnya yang luar biasa. *Tapi hati-hati jangan sampai terlalu berat lho.. kasihan tulang belakangnya 🙂 *

Dari tas ranselnya itu, saya melihat bayang-bayang kesungguhan dari sosok-sosok yang saya temui malam ini. Imajinasi saya mulai berlarian.. mungkin seharian sudah mereka beredar di kampus masing-masing. Sejak pagi, mengikuti kajian subuh di masjid, siap2 tak lupa mandi,  kemudian kuliah, bertemu dosen (dengan oleh-oleh tugas revisi laporan, oh tidak..), mengerjakan tugas kelompok, rapat organisasi,  mendengarkan curhat dari adik kelas, mengajar privat, tak lupa mandi sore (bisa juga tidak..ups!:D), hingga magrib pun menjelang, dan kini mereka di sini. Pukul 20 malam, mereka masih tetap setia dengan senyum yang menghiasi wajahnya seolah ada sumber energi yang tak urung habis dikuras. Mungkin setelah pulang dari sini nanti pun mereka harus mengerjakan tugas revisi dari dosennya tadi, ataupun persiapan diskusi kelompok untuk esok harinya. Namun kulihat binar mata yang tak surut berkilau di puncak hiruk-pikuk tersebut..

Sebuah keikhlasan yang terungkap melalui kerjanya tanpa pamrih. Waktu yang mereka berikan untuk mengajar anak-anak TPA setiap sore, walau tanpa imbalan materi apapun. Energi yang mereka kuras melebihi kapasitas standar mahasiswa pada umumnya. Pikiran yang mereka lahirkan dengan tindakan nyata, ditemani segelas kopi susu dan keripik singkong.. Sungguh inspirasi bagi saya..

Pertanyaan atas ke’galau’an di masa peralihan menjelang UKDI (Uji Kompetensi Dokter Indonesia) dan magang saya alhamdulillah terjawab sudah. Ia dihidangkan bersama segelas kopi susu dan keripik singkong balado. Rasanya luar biasa nikmat, dan menggelorakan semangat! Bahwa tak perlu khawatir dengan apa yang menanti di masa depan, namun jalani saja dengan kesungguhan, apa yang ada di hadapan mata kita sekarang. Satu per satu, penuh dengan penghayatan. Dan Allah akan menjawab dengan skenario terbaik yang telah disiapkanNya untuk kita.

Sebuah dialog (via SMS) dengan seorang teman yang juga sedang mengisi masa ‘nganggur’nya di kampung halaman,  menutup hari saya di penghujung bulan Syawal, bulan pembuktian ini..

“…aneh aja rasanya gak beraktivitas kayak biasanya dan ‘kehilangan’ teman2 lama. Seperti ada perasaan takuut ngehadapin masa depan. Tapi mungkin itu sebuah ujian. Aku hanya berjuang untuk mencoba terus ‘berpikir positif’ terhadap hidup. Kamu tau khan hukum Law of attraction? Semacam itu lah sekar. Semacam mencoba menjalani hal-hal kecil dengan penghayatan.. Ternyata kita bisa bahagia dengan hanya menjadi hamba yang bersyukur…. Mungkin kamu hanya perlu memperkuat keyakinanmu atas apa yang kamu perjuangkan. Mengutip tipsnya seorang kenalan: KUD (Keyakinan Usaha Doa)..”        

Selamat berkarya.. selamat beramal.. dengan sebaik-baik daya yang kita miliki!

Advertisements

One response »

  1. Percakapan dengan seorang mbak :
    Bongky (B) : lho,mau kemana,mbak?
    Mbak (M) : ke panti asuhan
    B : ngapain?
    M : yaa,untuk melembutkan hati

    hmm,memang kadang kalau sudah keenakan dengan “posisi di atas” hati jadi susah dilembutkan. Perlu diimbangi dengan “melihat ke bawah”. Kesombongan yang sedikit pun bisa jadi awal kejatuhan seseorang. Kayaknya inilah skenario-Nya dengan membuat “ada di posisi bawah”, untuk sedikit melunakkan hati..hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s