Yang Tak Tergantikan

Standard

Bismillah…

Menyusun.. menyusun.. dan menyusun..

“menyusun puzzle kehidupan”

Ingatkah? Ini tentang salah satu puzzle dari sekian banyak yang singgah dalam hidup kita. Ia tergantung di taman ingatan hati, berkiblat perbaikan..

Coba hadirkan dalam benakmu kawan, sebuah karya puzzle yang telah tersusun rapi, rapat tiap kepingnya. berbentuk segi empat sempurna, mengisahkan perjalanan panjang yang telah kita tempuh bersama. Baik dalam senang maupun susah, baik dalam tenang maupun gelisah.. Baik dalam kebersamaan maupun keterpisahan.. Sudahkah terbayang?

Jika sudah, kini biarkan kuingat kembali, saat jumlah keping itu masih tak lebih dari hitungan jari..

Kutemukan keping itu bersama sebuah sapa lembut yang menggetarkan hati

“Assalamu’alaikum ukhti..”

Karena kau buka lebar-lebar pintu hatimu, aku pun tak kesulitan melabuhkan tenang dan nyaman

Tulusnya lisan berbuah kepercayaan, hingga keping itupun tak lepas kugenggam.. erat.. dan erat..

Ialah penghulu para keping di sudut-sudut sana, yang mudah kita temukan karena bentuknya tak membingungkan.. untuk menemukannya, ‘hanya’ butuh modal keberanian dan sebuah ingatan bahwa kita semua bersaudara  karena-Nya..

Kutanya :“siapa namamu hai penguasa keempat sudut?”

……“namaku ta’arufjawabnya

 

Keempat sudut telah terisi. Kini aku mulai mencari keping-keping untuk menyambung keempat sudut itu. Kurenungkan dalam-dalam, gambaran seperti apa yang ingin kuhasilkan di akhir nanti. Namun, tak kunjung kudapatkan jawaban, hingga aku pun hampir menelantarkannya begitu saja. Saat itu aku masih ingin diperhatikan, ingin dimengerti, layaknya seorang anak baru gede yang sedang mencari jati diri. Ditengah kelabilan itu, anehnya engkau tak banyak berkata. Kau malah memberiku ‘ladang amal’ untuk kugarap dengan sepenuh hati, dan tentunya juga menguras energi. Namun, sesudah kebingungan ternyata ada jawaban. Layaknya terang yang hadir menggantikan kelam.

“Penuhilah rasa ‘ingin diperhatikan’-mu dengan ‘mencurahkan perhatian’ sepenuh hati pada saudara-saudara kita..”

Kau paham betul apa yang kubutuhkan.. ya, keping-keping penyambung keempat sudut kini tlah kutemukan.. Kau hanya tersenyum simpul dan memperkenalkan ia kepadaku.. “namanya adalah tafahum..”   

Waktu pun berlalu..

Ternyata banyak hal yang kita lewati bersama sejak keempat sudut dan penyambungnya itu terisi ya kawan..

Teringat suatu hari.. Saat kau serahkan sebuah amplop coklat berukuran F4 ke hadapannya.. Aku tahu apa isinya. Dan aku pun tahu, bagaimana engkau dengan segera dan bersungguh-sungguh telah mencari isi amplop yang dahulu kosong itu. Hingga, kini ia tampak penuh dan isinya hampir tumpah.

….Ya, ia berisi doa dan materi terbaik dari kawan-kawan, yang kau kumpulkan begitu tahu ada saudara kita yang sedang butuh bantuan..

“Ayo, sekarang waktunya aplikasi, bukan sekadar diskusi teori dan teori!” katamu..

tanpa berpikir ribet, apalagi mampet, amal itu kau alirkan begitu saja. Mengisi bagian tengah puzzle yang masih menganga lebar..

Kali ini ia tak perlu kutanya siapa. karna kutahu ia tak lain daripada sang “takaful”    

Nah.. kini tinggal tersisa dua bagian..

Tanpa mereka, tentu puzzle ini takkan sempurna

Hanya terisi bagian pinggir dan tengah… hmm…puzzle macam mana pula itu?

 

Aku terdiam… mungkin mengantuk..

“tenang kawan, aku disini..!”

 

“ya.. begitu pula denganku..!”

Tiba-tiba, suara yang menenangkan terdengar dari kejauhan. Membuatku menerawang dan berusaha menangkap sumber suara..

Aku berlari dan berlari..

Hingga akhirnya kutemukan sebuah padang lapang yang indah nian..

Rumput hijau yang terbentang mengisi seluruh lapang pandang, beratap langit biru tanpa satupun awan

Sosok keping tak dikenal menghampiriku perlahan..

“…Ini adalah taman hati saudaramu.. Kau tahu? Begitu lapang hatinya yang ia sediakan untukmu. Tanpa prasangka buruk, tanpa rasa benci. Mungkin kau belum mengenalku, karena ia tak pernah ungkapkan tentangku kepadamu.. dan kau tahu? Disinilah tempat keping-keping itu berkumpul.. menghasilkan kebaikan-kebaikan yang bersama kalian rasakan.. ia simpan taman ini dalam-dalam di hatinya, agar kau dan ia dapat berkumpul kembali di taman yang jaauh lebih indah kelak…”

Aku terdiam..

Tak sempat kuusap mataku yang sembab, hadir satu sosok keping lagi yang gagah. Dapat dikatakan yang tergagah dari semua yang pernah kutemui.. Dengan lembut ia berkata,

“Aku disini, kawan. Akulah keping terakhir dari seluruh keping yang kau cari. Memang kini aku semakin langka.. Tapi kuyakin, aku tak akan pernah hilang.. kisah tentangku sering diperdengarkan bukan? tentang para sahabat yang menemui akhir hayatnya bersamaku di medan perang. Ya, bersamaku dan seteguk air yang ia relakan ‘demi’ saudaranya disana yang kehausan.. Akulah itsar.. dan aku tak memiliki tempat tinggal selain di sini.. di dalam kelapangan hati yang penuh dengan prasangka baik..”    

Tubuhku berguncang, seakan tak kuat menahan aura yang memancar dari keping-keping puzzle itu..

Dan aku pun terbangun…

……. ternyata aku bermimpi…..

Wajahmu yang tampak khawatir menyambutku dengan lega..

Aku semakin kagum padamu kawan..

…..Dan kini, kepingan itu telah tersusun rapat..tanpa celah..

Sebagai pre-final, kita kokohkan ia dengan perekat bernama kebaikan bukan? Juga kita lapisi dengan lilin seterang cahaya doa.. Ah.. kau selalu berkata, bahwa inti dari persaudaraan bukanlah intensitas pertemuan.. melainkan hati yang terikat kuat dengan doa di mana pun kita berada..

Dan karya kita memasuki tahap akhir penyusunan.. Bersama kita hadirkan sebuah bingkai, betul?

“Bingkai ini super spesial..!”  katamu..

Saat kutanya mengapa, “Karena ia diturunkan langsung dari langit Kemurahan-Nya, kawan..”

Kau jawab dengan mata berbinar… dan segera kau lanjutkan.. “tak banyak orang bisa mendapatkannya.. ada juga yang lalai dalam pemeliharaannya.. ia adalah keindahan yang akan tetap bersinar dilubuk hati, menjaga setiap keping puzzle yang telah tertata rapi.. agar tak tercecer oleh gumpalan kebencian dan cacatnya kesabaran.. bahkan tak akan hilang walau jarak antar kita tak serapat keping-keping puzzle ini…”

binar matamu masih dapat kutangkap jernih..

apakah gerangan bingkai tersebut?

…………..ya,

Kini aku pun tahu..

Bahwa bingkai itu bernama “ukhuwah”

*********

spesial untuk dua saudariku di Bandung dan Magelang.. Yang baru saja menggenapkan separuh diennya.. ternyata ada sudut hati yang disapa hampa ditinggal engkau ‘pergi’.. (huehehe..) Namun jangan khawatir.. senyummu segera menggantikannya dengan rona bahagia di hatiku ukhtiy. Bangunlah keluarga yang penuh kasih sayang karena-Nya, mancetak jundi-jundi penegak tauhid di muka bumi ini kelak. insyaAllah,, aamiin.. (dan doakan diriku juga agar lapang dan siap dalam menerima takdir terbaik dari-Nya, dalam hal apapun ^_^)

tak akan kulupa suatu senja kala hati kita saling menyapa..

“semoga perjumpaan terakhir kita adalah di surga-Nya..”   

Aamiiin Ya Rabb.. 🙂

Dan untuk saudara-saudariku yang menjadi kepingan terbaik dalam puzzle kehidupan,, -yang tak tergantikan- karena masing-masingnya bagai bintang yang penuh cahaya.. menjadikan hidup dalam kehidupan ini penuh dengan warna^_^ tetap saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran ya.. semoga Allah SWT kelak kumpulkan kita semua dalam surgaNya yang sama, aamiin.. 🙂

 14.38 : Bandung -yang harus kutinggalkan lagi nanti malam- 13 Oktober 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s