Syntia Sayang.. Ismi Sayang.. Rindu Senyummu

Standard

Jika ada yang ingin diet, menurunkan berat badan karena merasa kegemukan, silakan mengajukan diri untuk menjadi dokter muda di stase anak. Mungkin kehidupan residen jauh lebih heboh, namun setidaknya yang sudah pernah saya rasakan adalah sebagai dokter muda di sana. Kehidupan seolah tak mengenal siang dan malam, kadang tidur hanya 2 jam, di hari lain lebih dari delapan jam.. sungguh pola hidup yang tidak sehat.. namun bagi kami yang saat itu baru memasuki dunia profesi, semuanya dijalani dengan semangat empat lima..! kenangan yang saya ingat salah satunya saat saya dan seorang teman sedang jaga UGD.. saking semangatnya, kami non-stop berdiri (tentunya sambil kesana-kemari..) mulai pukul 19.30 sampai jam 3 pagi…betis serasa melayang-layang.. (setelah itu saya terkapar di mushola..)

Yang penuh dengan cerita adalah saat kami ditugaskan di sebuah rumah sakit jejaring selama satu bulan penuh. Kami belajar banyak  hal di sana. Walau sering terkantuk-kantuk saat diskusi kasus dengan staf (bahkan pernah kami ber-tujuh ngantuk semua..), atau terkantuk-kantuk saat memasukkan susu ke sonde seorang pasien gizi buruk, dan hampir saja tumpah dari tempatnya jika sang ibu tidak mengingatkan saya… (Alhamdulillah kini anak ini sudah sehat kembali :)), atau terkantuk-kantuk saat visite pagi dalam posisi berdiri…

Ah.. tapi saya tidak ingin cerita tentang ngantuk..

saya ingin berbagi cerita tentang seorang bidadari kecil, yang pernah saya temui di bangsal melati, namanya Syntia. Umurya empat tahun, ia dirawat di rumah sakit ini karena perburukan dari penyakit yang sedang ia idap, cerebral palsy atau nama lainnya kelemahan otak. Saat itu Syntia hanya dapat terbaring lemah di atas bed berpenyangga berukuran kurang lebih setengahnya dari bed pasien dewasa. Kadang ia demam tinggi, kadang ia juga kejang. Tak ada kata-kata yang keluar dari tenggorokannya, hanya sesekali suara lemah Syntia terdengar seolah ingin menyampaikan sesuatu. Ia bukan pasien yang saya follow up setiap pagi, namun ia saya temui tiap pagi saat visite bersama staf, jadi saya mengenalnya. Kadang jika sedang suntuk, sengaja saya mendatanginya untuk sekadar melihat wajah cantik yang sedang tertidur dengan damai. Kulitnya putih, badannya gemuk, tak aneh rasanya kalaupun Syntia bangun dan turun dari bed begitu saja, kemudian berlari sambil menyeringai dengan senyuman manisnya. Keluarganya sering menceritakan bagaimana cerianya Syntia dahulu, cerewetnya ia, gelak tawanya, lincahnya anak ini bermain riang.. Walau ia tak bersama kedua orang tuanya. Ya, Syntia ini adalah neglected child. Ibunya tidak ada, ayahnya bekerja di luar pulau. Ia tinggal bersama tante dan neneknya, yang sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. “gendhuk” panggilan sayangnya. Bahasa Jawa yang berarti “cantik..”(kalau tidak salah…)

Ah.. saya juga ingin melihat Syntia yang seperti itu.. bermain bersamanya, mendengar cerita-ceritanya sambil disirami binar-binar dari kedua bola matanya yang bulat.. Namun sayang, hal itu ternyata menjadi mimpi yang tak tersampaikan..

Suatu pagi, saat kami sedang berkumpul di nurse station. Lantai satu dari bangsal bertingkat empat. Tengahnya bolong, sehingga jika kita teriak dari bawah pun, orang-orang yang di lantai empat dapat mendengarnya. Saat itu kami baru menyelesaikan putaran visite pagi. Sembari menunggu staf yang menandatangani rekam medis yang telah kami up-date, kami ngobrol-ngobrol di nurse station yang tak jauh dari kamar dimana Syntia berada. Tiba-tiba ada  yang menarik lengan saya, yang ternyata adalah tantenya Syntia.

“Mbak…itu, ghenduk.. kok matanya melirik-lirik ke atas terus ya…?? Coba dilihat Mbak…”

Wajahnya sedikit panik tapi masih dalam batas wajar. Segera saya melangkah ke kamarnya Syntia, saya cek kondisinya. Syntia yang digendong di pangkuan neneknya, terdiam dengan tampak sedikit kaku, matanya melirik-lirik ke atas. “kejang..” batin saya. Badannya panas. Lalu saya cek bola matanya dengan senter yang tergantung di saku kiri jas putih saya. Pupilnya melebar.. “DEGH…” jantung saya rasanya berdebar kencang, segera saya keluar kamar dan memanggil dokter residen, teman2 dan para perawat yang ada di nurse station.. semua melangkah cepat, resusitasi pun dimulai. Kamar Syntia yang dihuni oleh kurang lebih enam pasien mendadak ramai dan diliputi suasana yang menegangkan.. semua mata tertuju ke bed Syntia. Ditambah lagi dengan tantenya Syntia yang mulai panik.. mulai memanggil-manggil Syntia..

“gendhuuk… gendhuuk…”

suaranya serak seakan tangisan akan meledak..

dan akhirnya benar-benar meledak..

………..

Syntia menghembuskan nafas terakhirnya.. kami terpaku dengan suasana yang begitu menyesakkan dada. Ia adalah pasien pertama.. yang menemui ujung usianya di hadapan kami..

Sementara residen, para perawat, dan beberapa teman saya tetap di tempat Syntia, saya dan satu teman saya membantu tantenya Syntia yang histeri keluar dari ruang perawatan. Di nurse station dengan konstruksi bangunan seperti yang telah saya katakan di atas, tangisannya tentu terdengar sampai seantero bangsal. Hingga lantai empat, atau mungkin lebih. Kami dudukkan beliau di kursi roda, sambil menenangkannya. Nenek Syntia yang sedari tadi berada di ruangan akhirnya keluar dan berkata kepada tantenya Syntia agar tegar. Dengan nada yang sedikit tinggi, berusaha membawa anaknya itu kembali ke dunia nyata. Lalu sang nenek menyodorkan telepon genggam yang sedari tadi ada di tangan tantenya Syntia kepada saya. Sebenarnya sang nenek meminta anaknya itu untuk menelpon keluarga inti Syntia tentang kabar duka ini, namun tampaknya tak sanggup, hingga ia pun meminta saya untuk melakukannya.

HP nokia, seri berapa saya lupa. Namun, apa yang saya lihat disana tak akan pernah saya lupa selamanya. Ya, wall paper HP itu.. foto Syntia saat masih sehat, dengan senyuman lebarnya yang sangat cantik. Hati saya terasa disayat-sayat. Apa yang saya tahan sedari tadi rasanya meluap seketika. Segera saya keluar dari bangsal, alih-alih mau mencari sinyal, sebenarnya tak kuasa menahan air mata yang membendung untuk tumpah. Saya angkat dagu ke atas agar butir-butir itu tak sampai tumpah karena gravitasi bumi….

**************************************

Ah.. akhirnya saya bisa bertemu dengan senyuman itu.. walau tidak secara langsung.. terima kasih, Syntia.. terima kasih, anak-anak tercinta.. memang lelah, memang perlu energi yang ekstra.. namun, tahukah? semua kelelahan itu, terbang seketika memandangmu tersenyum. Terlebih ketika pak dokter berkata

“ya Nak… hari ini kamu sudah boleh pulang ke rumah..”

Senyuman itu hadir seketika kau mendengarnya. Spontan, dari hatimu yang bersih tak bernoda.. hingga dapat meluluhkan hati kami, dan menerbangkan jauh-jauh penat dan lelah yang membebani.

 

Itulah sebuah kisah yang akan tetap tersimpan dalam memori. Tak sekadar tersimpan, tapi saya merasa ia dapat melahirkan semangat-semangat baru saat dilanda jenuh,, dapat meluruskan kembali orientasi kala ia mulai linglung diterjang kekerasan hati..

*************************************************************************************

Memori ini terangkat kembali ke permukaan, setelah saya bertemu dengan seorang bidadari cantik, tak kalah cantiknya dengan Syntia, baru-baru ini. Di sebuah kamar rumah sakit besar di Bandung, yang telah ia huni dua tahun lebih lamanya. Ismi.. nama anak ini. Kini ia dalm kondisi tak dapat melihat, juga tak dapat berjalan, dan usianya masih 3.5 tahun. Perjuangannya, perjuangan keluarganya, untuk tetap bertahan dalam segala cobaan yanag melanda mereka, mengetuk kencang-kencang hati kami untuk coba berupaya dengan apa yang kami punya. Kini, biaya RS dan pengobatan yang kini mereka tunggak telah mencapai angka 300 juta. Ayo kita berbuat selagi bisa, dengan sekecil apapun, sebesar apapun materi yang ada..!

 

Rekan-rekan yang mau menyalurkan bantuannya, bisa menghubungi kami melalui email fcsekar@yahoo.com, InsyaAllah, rekan-rekan di Bandung sedang berupaya mengumpulkan data, sebagai modal materi untuk menggalang dana ke lingkup yang lebih luas lagi. insyaAllah, nomer rekening dan artikel lengkap mengenai Ismi akan dipublish oleh tim dalam waktu dekat. Mohon bantuannya untuk men-sharekan juga nantinya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s