The Great Story of True Love #Dzulhijjah Special Edition!

Standard

Apa yang ada di pikiran Anda saat membaca judul tulisan ini?

‘The Great Story’!

ya..

ini bukan sembarang cerita, karena ini adalah kisah nyata..

bukan juga sekadar dongeng pengantar tidur, karena ini tentang kisah sejarah agung yang tertulis dalam kitab suci..

apalagi seonggok cerita yang pantang kita ambil hikmah darinya.. bukan..bukan..

sepertinya kita perlu memindahkannya dari ruang bernama sejarah masa lampau, menuju alam luas bertema  hidup dan kehidupan..

‘… of …’ !

kalau yang ini sebuah penyambung kata, agar tersusun sebagai kalimat utuh.. 😀

‘True Love’!

True Love….true love.. love true..

Mm?

Sebentar.. Sebentar.. apa yang dimaksud dengannya? Sudah benarkah ia yang bersemayam di dada hingga saat ini? Bukan yang lain.. kan? Yang mirip-mirip tapi jauh berbeda?? Coba kita renungkan lagi..

Dengan sejenak menyimak kisah yang satu ini… 🙂

**********

Bismillah..

Ini adalah sekelebat kisah tentang tiga ujian bagi Khalilullah… Sang kekasih Allah…

Di penghujung usianya yang telah memasuki senja… doa itu mengalir deras tak putus, sembari mengingat pada Allah.. yang tak ada hal mustahil bagiNya..

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh..” (QS As Shaffat : 100)

Pinta sang Khalilullah.. dengan rambutnya yang tak lagi hitam berwarna, dengan tulang-tulang yang mungkin tak lagi sekuat dulu kala masih muda. Kerinduan pada momongan yang tak kunjung datang, ia kristalkan menjadi bait-bait doa penuh harap dan kerendahan hati. Satu ujian, untuk kesabaran yang agung, diperuntukkan bagi hamba-Nya yang istimewa, karena Allah tak akan pernah menguji hambaNya di luar batas kemampuan. Hingga langit pun menjawab doa-doanya dengan kehadiran pewaris risalah sang ayah..

Ismail ‘Alaihissalaam..

Ujian tak berakhir disana.. ujian kedua.. Ismail yang masih dalam gendongan Siti Hajar sang Ibunda, atas perintah Zat Yang Mahamemelihara, harus ia tinggalkan di tengah gersangnya gurun padang pasir yang kini menjelma keramaian kota Mekkah Al Mukaramah. Lagi-lagi sebuah ujian.. ujian kesabaran.. bagi Sang khalilullah.. serta istri dan anaknya yang dicintainya.

Di penghujung dialog perpisahan yang teramat berat bagi keduanya, sang istri yang luar biasa, Siti Hajar pun berkata..

“Apakah ini perintah Allah…?”

Hati keduanya saling terhubung dengan sebuah ikatan yang kokoh dan mengokohkan.. hingga tak ada lagi ruang dalam hati yang tersisa selain untuk cinta kepada Sang Pemilik Cinta..

“Ya.. ini adalah perintah Allah..”  

Seketika jawaban itu terdengar dari bibir sang suami yang ia cintai, kabut tebal yang telah menyelimuti hatinya sejak tadi, seolah hilang dihempas angin keyakinan yang kuat nan menyejukkan.. tenang dan tegarlah hati sang ibunda.. walau berat nian tetap terasa..

“Jika demikian adanya, tinggalkanlah kami di sini.. Aku rela kau tinggalkan.. mengenai keselamatan kami, serahkanlah urusan itu kepada Allah.. pasi Ia akan membela dan tidak akan menyia-nyiakan kami…”

air mata yang sedari tadi membanjiri pipinya, ia usap dengan tangan ketegaran.. dan Sang  Khalilullah pun tak henti-hentinya berdoa memohon keselamatan dan pemeliharaan kedua manusia yang ia cintai itu, sepanjang perjalanan pulangnya ke Palestina..

Waktu pun berlalu.. masa pun berubah.. Namun ada satu kerinduan di hati sang Khalilullah yang tak juga menunjukkan rona pudarnya.. ya, kerinduan pada putra dan istri yang ia tinggalkan bertahun-tahun lalu lamanya di tengah padang pasir..

Hingga..hari yang dinantikan itu tiba dengan membawa kegembiraan yang tiada tara..

Padang Arafah telah menjadi saksi akan pertemuan yang telah lama dinantikan oleh Sang Khalilullah itu..

Padang Arafah

9 Dzulhijjah.. keluarga kecil yang sedang diliputi kebahagaiaan itu pun melakukan perjalanan pulang, ke Makkah, yang tentu menguras tenaga mereka. Hingga Muzdalifah menjadi pilihan tempat bagi mereka untuk istirahat sejenak, melepas lelah.. dan di saat itu pula lah ujian ketiga datang menghampiri. Apakah itu? Ya.. sebuah perintah bagi Sang Khalilullah untuk menyembelih putra kesayangan yang tengah beranjak remaja itu.

“Hai anakku, aku telah bermimpi, diperintah oleh Allah untuk menyemberlihmu. Bagaimanakah gerangan pendapatmu?”

Tanpa menunjukkan setitikpun air wajah keraguan, Ismail remaja itu berkata :

“Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah itu. Dan aku akan tetap tabah, insyaAllah..”

Lagi-lagi Allah tunjukkan cintaNya dengan ujian yang dahsyat bagi keluarga Sang Khalillullah.. ya.. ujian kembali..

Lempar Jumroh

Mereka memulai perjalanannya ke lokasi yang direncanakan untuk proses penyembelihan. Bisa saja terdapat pikiran untuk ragu, langkah untuk kembali melanjutkan perjalanan pulangnya ke rumah. Namun, cintanya yang hakiki kepada Sang Khaliq telah menguatkan punggung tempat hati bersandar. Hingga ujian-ujian dan godaan iblis yang mereka temui di perjalanan pun dapat dilaluinya dengan tegar. Mereka melemparkan iblis-iblis penjelma manusia dengan takbir. Kini, dapat kita hidupkan kembali sebagai melempar jumrah.. ya, Jumratul Wastha, dan Jumratul Aqobah.

Ismail telah dibaringkan, pisau tajam pun telah diasah..

Di tengah suasana yang syahdu itu, sang putra khalilullah berkata,

“Wahai ayahku.. tolong, ikatkan badanku dengan tali.. aku khawatir, saat pisau itu menghunus leherku, badanku berontak, hingga darah yang mengalir dari leherku mengotori bajumu, wahai ayah. Jika ibu melihat darahku itu, tentu beliau akan teringat dan bersedih.. maka ikatkanlah aku dengan tali, ayah..”

Kini telah terikatlah Ismail di tempat ia berbaring..

Mata pisau itu telah berada di atas lehernya..

Dengan keyakinan yang penuh, saat hendak dihujamkan pisau itu pada leher Ismail..

Namun apa yang terjadi??

Tangan Sang Khalilullah tak dapat digerakkannya!!

Rupanya para malaikat diperintahkan Allah untuk menahannya.. hingga Sang Khalilullah pun berpikir,

“apakah karena masih ada keraguan di hati ini hingga tanganku tak dapat digerakkan..?”

Lalu ia pun menguatkan tekadnya dengan menyertakan takbir yang penuh kerendahan hati..

“Allaahuakbar… Allaahuakbar…Allaahuakbar… Laailaahaillallahuwallahuakbar…!”

Dan para malaikat pun menyambut tekadnya dengan

“Allahuakbar walillaahilhamd….”

 

Tangan Sang Khalilullah akhirnya bergerak.. darah menetes, mengaliri batu dan tanah kaki bukit di Mina..

Namun bukan darah Ismail yang mengalir.. melainkan darah seekor kibas yang gemuk nan sehat, yang telah Allah gantikan, karena para hambaNya yang shalih itu telah lulus  dari ujian yang diberikanNya…

******************************************************************

Ah…. Jauh… masih sangat jauuuh sekali rasanya dari potret kisah cinta yang luar biasa itu.. bolehlah kita berkata, bahwa cinta itu pengorbanan.. tapi satu hal yang jelas, bahwa cinta itu harus dibuktikan!

Napak tilas Sang Khalilullah di Bulan Dzulhijjah ini semoga tak hanya berakhir pada sekadar kisah yang terus diperdengarkan, berulang-ulang dari tahun ke tahun.. Karena, pembuktian cinta bukan melalui lisan yang berkata saja, tapi juga melalui kesabaran dalam ketaatan kita pada Sang Pemilik Cinta… sebagaimana telah diajarkan oleh bapak para nabi, seorang ayah yang luar biasa sholih, Sang Khalilullah, kekasih Allah… Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam…

True Love 🙂

Yogyakarta, 2 Dzulhijjah 1432 H

Advertisements

4 responses »

    • Rasul juga manusia kan mas.. kita juga manusia.. tapi kanapa (masih) berbeda? 🙂 (#bukan pertanyaan)

      Semoga saat hari pertanggungjawaban itu tiba, kita bisa membawa bukti yang kuat atas persaksian yang pernah kita ucapkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s