Spirit of Java..!

Standard

Bismillah..

“Kasih ibu kepada beta.. Tak terhingga sepanjang masa.. Hanya memberi, tak harap kembali.. Bagai sang surya, menyinari dunia…”

Lagu yang sudah akrab bagi kita semua tentunya. Lagu sederhana, yang dalam maknanya. Hari ini saya kembali menyaksikan ‘kasih seorang ibu’ dalam bentukan lain, yang terjadi di sebuah rumah sakit bernama ‘Kasih Ibu’..

RS Kasih Ibu Surakarta

***

Pukul 13.10, langkah kaki saya mengalun cepat menuju pintu gerbong yang masih menganga lebar. Dari hasil googling, kereta kuning yang kini ternyata tarifnya naik tiga ribu rupiah itu dijadwalkan akan berangkat dalam waktu lima menit lagi. Karena itu saya sedikit terburu-buru. Eh,ternyata saat saya lihat tiket kereta setelah sejenak memnghela nafas lega, pemberangkatannya adalah pukul 13.35, alias masih 20menit lagi. Tak apalah, alhamdulillah…

Perjalanan naik kereta selalu saya nikmati pemandangannya. Apalagi rute Tugu Yogyakarta-Solo Balapan, hampir 70% perjalanannya berwarna hijau! Sawah, ladang, dan perkebunan. Ditambah warna langit yang sedikit sendu, dipadu gugusan awan bergumpal-gumpal seperti gula-gula yang menggiurkan bagi anak-anak yang mengunjungi pasar malam di alun-alun. Maha suci Allah yang memadukan semua perbedaan warna itu menjadi harmoni yang menenangkan, menginspirasi, dan membuat kita tak bosan menyelami keajaibannya. Andai manusia pun dapat demikian.. Ah, pastinya akan lebih mulia kedudukan di sisi-Nya..

view dari kereta. Sedikit mendung 🙂

***

Tiba di Solo. Spirit of Java! Saya baru tahu kalau sekarang ada ojeg unik disini. “ojeg berhijab”.

“Kemana Mbak? Ke kampus? Naik ojeg saja Mbak, jauh lho.. sepuluh ribu saja ndak papa..”

“Matur nuwun Mas, mboten..” (Terimakasih Mas, tidak usah..)

“Ndakpapa Mbak, ada hijab-nya kok.. Kalau untuk yang putri..”

“…??”

 

Wow..!! saya baru pernah dengar ada ojeg berhijab.. sulit rasanya dibayangkan, dan hingga akhir pun saya tidak berjodoh untuk melihat bagaimana rupa si ojeg berhijab itu..hehe..

Selingan yang unik, membuat saya senyum-senyum sendiri mengingatnya. Anyway tetesan hujan mulai menjadi butiran besar yang membuat muka saya basah. Akhirnya bapak supir becak yang saya tumpangi pun menutupkan tirai yang berwarna putih tidak transparan ke hadapan saya. Hingga, pemandangan pun harus saya nikmati dengan cara menigntip-intip dari sela tirai. Tak apa, nuansa baru dalam menikmati kota kelahiran diri saya sendiri. Banyak kedai-kedai makanan yang unik dan tampak menggirukan.. hmm.. sepertinya suatu saat ingin mencobanya.. tapi saat ini saya kembali fokus ke niat awal kepergian saya pulang ke kota kelahiran. Yakni menjenguk mbah kakung (kakek) saya di rumah sakit bernama Kasih Ibu..

***

Mbah Bono, panggilan akrab beliau, di usianya yang sudah melebihi 4/5 abad.

“Niki Sekar,Mbah…” (Ini Sekar, Mbah..)

“Oooh.. ya.. Sekaar.. tanganmu kok yo kasar??”

Sapanya menyambutku sembari mengusap-usap tangan saya dengan tangannya yang besar dan sudah tidak mulus lagi tentunya. Nama para cucunya harus terus diingatkan berkali-kali, selain karena kami mirip-mirip wajahnya (menurut mbah), memang beliau sudah sering lupa mengingat satu persatu nama para cucu.. apalagi tempat tinggal, ataupun statusnya..hehe..

“Pripun Mbah…?” (Gimana Mbah..?)

Beliau menjawab. Jawabannya memang tak sesuai dengan pertanyaan. Kubalas lagi dengan senyuman, tak masalah..

Ini sudah hari ketiga perawatannya di Rumah Sakit. Mbah memang sudah rutin dalam pengendalian sakit gulanya. Namun, sesekali beliau menemui kondisi yang mau tidak mau harus membawanya untuk mondok di rumah sakit. Dalam setiap kejadian tersebut, ada sosok yang tak pernah absen berada disisinya, siapa lagi kalau bukan mbah putri? Ya, Mbah Putri kami yang satu ini memang luar biasa.

Langkahnya kecil, sendi-sendi kakinya sudah tak sepenuhnya dapat ditekuk dan diluruskan. Namun beliau tak henti berjalan, berdiri, dan berada disisi mbah kakung, sang suaminya tercinta. Sudah dua hari terakhir ini mbah kakung tidak bisa tidur barang satu menit. Begitu pula dengan mbah putri. Kakinya terlihat membengkak karena sebagian besar waktunya dilalui dengan berdiri. Saat sholat ia duduk. Duduk di kursinya, sholat dengan khusyuk. Bahkan sesekali terantuk karena begitu lelahnya mungkin.

Walau saya yakin mbah putri lelah, beliau tak pernah mengeluh. Dan tak pernah tampakkan raut wajah yang cemberut. Bahkan kejenakaan sesekali menyapa waktu kami. Saat mbah kakung kurang tenang dan bergerak kesana-kemari, belialu berkata dengan lembut

“Tidur, pak..”

“Opo…? Sudir?”.. jawab mbah kakung.

“Tidur.. pak.. turu..”

“Opo? Turir?? Turir.. turur… He..He..He..” (tanpa unsur kesengajaan)

“…..” (mbah putri tersenyum manis)

 Tak hanya mbah putri, saya dan bude yang menyaksikan kelucuan itu  pun senyum-senyum geli.

Ada lagi di lain waktu, saat mbah kakung mengotak-atik selang infus dan hampir menyabutnya, mbah putri dengan sabar menarik tangan mbah kakung, dan kemudian berkata

“mboten usah diapakke pak.. niku infus.. sini tak elus-elus wae tangannya..” (tidak usah diapa-apakan, pak.. itu infus.. sini, tangannya, saya elus-elus saja ya..)

^_^

Dan dengan lembut penuh kasih sayang, beliau raih dan usap tangan mbah kakung. Perlahan-lahan.. hingga beliau pun hampir tertidur sembari memegangi tangan mbah kakung.. kuambil bantal dari lemari, kuletakkan di atas kasur.

“Mbah,, sare teng niki mawon..” (Mbah, tidur pakai ini saja..)

Kalau saya minta mbah putri supaya tidur dengan memosisikan diri yang baik (rebahan maksudnya),  saya yakin beliau tidak akan mau. Sehingga saya pun ‘membiarkan’ mbah putri tertidur dengan posisi duduk di kursi, dan kepala tertekuk, disanggah sebuah bantal di atas kasur mbah kakung. Kemudian mbah pun tertidur.. Diikuti mbah kakung pun akhirnya tertidur.. alhamdulillah.. pasti sudah sangat lelah, batinku tersenyum..

Kasih seorang ibu..

Seorang istri.. seorang nenek.. dan seorang buyut..

Bidadari yang sedang turun ke bumi.. Kehangatannya bagai sang surya, ketegarannya menyaingi pohon yang menaungi saat terik panas menghujam.. Apa yang beliau cari di ujung pengabdian sana? Apa yang beliau harapkan hingga ketulusannya menjadi satu hal yang tak tergantikan..? saya mulai memahami.. mungkin keikhlasan saja yang menjadi cahaya di sana. Memaksa kami untuk mengeja maknanya satu persatu. Mengeja makna ikhlas..

***

Ah.. ternyata jarang sekali secara khusus saya mendoakan kedua sosok itu.. dua sosok yang mengajarkan tentang kekuatan yang terlahir dari usaha ikhlas. Walalu usia sudah senja, gerak tak lagi menyala, namun tetap ada disana untuk saling mengokohkan. Semoga bersama hingga di JannahNya kelak, ya.. mbah kakung dan mbah putri.. dan tentunya kita semua..

mbah kakung & mbah putri "ceria!"

Malam yang dingin namun hangat di Surakarta, kota kelahiran saya. “Spirit of Java” katanya, ya, mungkin hari ini saya telah bertemu dengan sebuah spirit itu. Alhamdulillah Ya Allah.. nikmat! Dan susu jahe madu di tengah derasnya hujan ini pun nikmat!

susu jahe madu "Shi Jack"

Surakarta, 16 November 2011

Advertisements

6 responses »

    • alhamdulillah udah pulang ke rumah Yuy,, karna bukan penyakit yang disembuhkan tapi dikendalikan, so perawatan lanjut di rumah, insyaAllah lebih santai Yuy 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s