Saya, Jakarta, dan Ragam Wajahnya

Standard

Bismillah…

20 Desember, malam hari. Akhir pekan berpetualang pun ditutup dengan duduknya saya di bangku kereta Lodaya malam menuju Yogyakarta saat ini. Hari Jumat tanggal 16 lalu, saya dan dua teman saya berangkat menaiki Gajahwong menuju ibu kota Jakarta. Perihalnya adalah menghadiri resepsi pernikahan pak presiden.. bukan presiden RI tentu saja, melainkan presiden BEM saya saat kepengurusan kami kurang lebih 3 tahun silam.

Berbagai kendaraan kami naiki selama perjalanan. Mulai dari kereta kelas ekonomi-bisnis-eksekutif, KRL, taksi, hingga bajaj yang ternyata kini getarannya sudah jauh lebih mereda. Berbagai wajah juga telah saya amati dengan seksama.. Wajah ibu kota yang berpayung awan hitam, wajahnya pula dengan gedung-gedung yang menjulang.. kehidupan yang terus bergulir dalam roda waktu yang telah ditakdirkan.. membuat saya mau tidak mau terpanggil untuk mengambil suatu pelajaran.

***
Sepanjang perjalanan KRL dari stasiun Gambir menuju Jatinegara, memang tak terjadi kejadian istimewa. Saya berdiri di dekat pintu otomatis, memandang wajah kota Jakarta yang tak kalah bervariasi dibanding perilaku para insan. Berangkat dari pemandangan kota metropolitan, jalan layang saling bersilangan, tata kota yang cukup teratur, dan komposisi hijau-abu yang masih proporsional. Sebuah kehidupan yang menyuguhkan kenyamanan. Walau orang-orangnya jarang terlihat di luar. Ah.. mungkin mereka sedang bekerja di kantor..atau mungkin kah di dalam rumah terlalu nyaman hingga enggan keluar? Thats no problem..

Kereta terus melaju.. Wajah sang ibu kota pun mulai menunjukkan sisi lainnya yang sedari tadi masih tersembunyi. Rumah-rumah petak yang berderet rapat, terkadang tanpa sekat. Jalanannya cukup dilalui oleh motor atau bajaj saja. Pohonnya banyak, ada yang berbuah, ada juga yang daunnya berwana-warni.. mereka memayungi jalanan sempit yang masih beralaskan tanah. Terlihat ibu-ibu yang menggedong bayinya saling bercakap ria di depan rumah petak yang dari luar pun tampak dalamnya. Ada juga anak-anak berlarian membenarkan kerudung coklat yang matching dengan seragam pramukanya. Kehidupan yang menyuguhkan keramaian.. mengajarkan tentang ‘survive’ kepada saya.
***

Ternyata hidup memang begitu singkat.. Bahkan untuk menjelajahi segala macam kehidupan di negeri sendiri pun rasanya belum cukup. Dunia yang hingga saat ini saya tekuni, ternyata masih sangat sempit, dan baru sebagian (sangat) kecil dari seluruh wajah yang dimiliki negeri ini. Apalagi jika ingin mengetahui berbagai wajah yang dimiliki dunia.. dunia dengan negara dan ras manusia yang luar biasa banyak..

Adakah kiranya kepantasan untuk tetap menyombongkan diri dihadapan penggenggam seluruh isi kehidupan ini?

Saya kira kita semua tentu sudah memiliki jawaban. Tinggal mengejawantahkan jawaban tersebut menjadi bentukan amal. Di bumi manapun kita berpijak, di saat apa pun kehidupan sedang bergulir, dan sebagai apapun kita meniti jalan panjang ikhtiar… kita adalah HAMBA Nya.. yang tak boleh luput mengais hikmah yang bertebaran, yang tak boleh lupa tentang untuk apa kita diciptakan..

***
Abstrak memang.. tapi itulah kehidupan.. berusaha saja  dengan apa yang kita mampu. Walau tak semua sisi kehidupan manusia di bumi ini dapat kita jelajahi dan rasakan..
Tapi itulah mengapa Allah ciptakan hikmah di setiap perjalanan..agar fikir ini semakin kaya dan terbuka..dan agar hati tak luput bertasbih mengagungkan namaNya..

Alhamdulillah.. atas perjalanan kali ini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s