Naik dan Terus Berulang!

Standard

Pernah jalan-jalan ke puncak Jawa Barat? Atau mendaki gunung tinggi, misalnya wisata Merapi?

Apa yang kita lihat disana?

Ya.. tentu saja pemandangan yang indah membentang bukan? Gambaran bukit-bukit berpadu dengan tata letak kota yang begitu memanjakan mata. Apalagi bila malam menjelang, seolah bintang-bintang yang kaya akan warna mendarat seketika di bawah mata kita memandang. Kadang berjalan, kadang berpendar..yang kemudian menghilang ditelan gelapnya malam..

“tempat yang tinggi”, dalam konteks cita-cita dan harapan. Pastinya semua orang memilikinya di alam pemikiran masing-masing. Tak harus semuanya dinilai dari kacamata materi.. tempat yang tinggi dalam definisi ‘kebahagiaan’ setiap pribadi, semestinya sudah ada dalam benak manusia yang telah menyadari arti dan tujuan dari hidup yang dijalaninya kini. Bahkan, seorang anak yang sudah mulai memiliki minat ataupun kesenangan pun, dengan dorongan dan support dari orang-orang terdekatnya, bisa untuk berkembang terus menuju capaian yang lebih tinggi.

Sebut saja Nelson Burton, seorang atlet basket ternama. Sejak usia empat tahun ia telah dilatih penuh kasih sayang oleh ayahnya sendiri. Sang ayah kerap melatihnya dengan cara yang unik. Ia berikan bola basket pada Nelson kecil, dan memintanya untuk memasukkan ke keranjang yang ia pegang. Setiap Nelson melemparkan bolanya dengan tangannya yang kecil, keranjang yang ia pegang pun akan digerakkan ke arah bola meluncur. Tentu setiap lemparan anaknya itu pun akan selalu masuk. Begitulah ia menanamkan kepercayaan diri Nelson kecil, hingga ia pun kini mencapai titik yang tinggi dalam karirnya sebagai seorang atlet profesional.

Namun, jika dirasakan lebih dalam, ada dua hal yang kerap dilupakan manusia, yang bisa jadi menyebabkannya stagnan berada di posisinya saat ini.

Pertama adalah: pemandangan yang indah! Merasa telah menggenggam segala impian dan citanya, serta kealpaan yang meniupkan angin sejuk dan membisikkannya bahwa sungguh tak ada lagi puncak yang lebih tinggi daripada posisi dimana kini ia berdiri. Ini adalah manifestasi ke-mudah-puas-an seseorang.

Sedangkan yang kedua dan tak terpisahkan adalah: rasa pesimis. Ketika impian telah tercapai, dan saat itu belum terbayangkan bahwa sesungguhnya ada lagi titik yang lebih tinggi. Merasa dirinya tak dapat melakukan yang lebih baik daripada capaiannya saat ini. Dan yang ini adalah upaya pembatasan potensi diri dengan pikiran yang njelimet (rumit) tentang kepuasan, inferioritas, serta ‘kelelahan’ dalam upaya mencapai cita yang telah bercampur aduk.

Ada contoh yang cukup menarik dan bisa kita ambil hikmahnya, dalam sebuah film yang disadur dari manga di Jepang. Nodame Cantabile. Sudah tidak asing lagi bukan? Kini kisahnya telah tersebar luas ke berbagai dunia, menebarkan ‘virus-virus’ Nodame yang impact effectnya cukup terasa. Manga karya Ninomiya Tomoko, yang diterbitkan sejak tahun 2001 dan menutup episodenya di buku yang ke 25 beberapa tahun silam lalu, menurut saya menyimpan pesan yang cukup mendalam tentang apa yang dinamakan ‘passion’ ataupun kekuatan bermimpi. Yang menariknya adalah karena ia tidak hanya berada di tataran angan, namun diejawantahkan pada tantangan dan realita yang dihadapinya secara langsung.

Nodame, panggilan akrab sang tokoh utama: Noda Megumi. Gadis dengan kepribadian ‘unik’ (mengarah kepada ‘aneh’) ini memiliki bakat yang cemerlang, yang bahkan diri dan keluarganya pun tak menyadari dan tak berkeinginan khusus untuk menumbuhkannya. Apa itu? Ya, bakatnya dalam bidang musik, khususnya disini adalah bermain piano. Cita-cita awalnya adalah guru TK, bermain dan bersenang-senang bersama piano dan anak-anak didiknya. Namun, justru bakat ini disadari oleh orang-orang terdekatnya di kampus di mana ia sekolah musik. Berjumpa dengan berbagai teman, guru, serta para musisi profesional lainnya sedikit demi sedikit mematangkan diri Nodame untuk menatap hidup ke depan bersama dunianya dalam musik. Satu per satu tangga dilalui, bersama Chiaki senpai (kakak kelas yang menjadi salah satu motivasi kuat Nodame untuk mencapai kemampuan diri yang lebih tinggi lagi) yang sama-sama memiliki passion untuk menjadi musisi profesional level dunia. Cita-cita Nodame saat itu  telah menjadi “Berdiri di atas panggung yang sama dengan Chiaki senpai!”. Hingga tangga-tangga itu pun terlewati, akhirnya sampailah ia pada cita yang diimpikannya, beridiri di atas panggung impian itu. Dalam perjalanan panjangnya tersebut, bahkan setelah citanya itu pun tercapai, ia masih menyimpan sebuah pertanyaan yang diam-diam terpendam dalam lubuk hati terdalam.

“Itsu made yareba ii desuka?”

(“sampai kapan aku harus seperti?”)

berada dalam dunia musik, yang terus menerus menguras tenaganya, baik lahir maupun batin. Hingga di saat akhir, ia menemukan jawaban di dalam dirinya..

Di scene terakhir dalam movie finale nya, Nodame berkata,

“….Aku yakin, jika bersama Chiaki senpai, suatu saat aku dapat berdiri di panggung itu. Memainkan harmoni yang terbaik bersama. Tapi.. ternyata itu bukan lah pencapaian akhir. Setealh itu pun, masing-masing diri kita akan kembali berkutat dalam latihan dan pembelajaran untuk membuat performa kita semakin baik di masa yang akan datang. Hingga hal itu pun terus berulang dan berulang.. dan berhenti saat akhir hayat kita nanti….”

Panggung Orchestra 'impian'!

Itulah dia! Hal tersebut akan terus berulang dan berulang. Meskipun tentu kita akan menjelajahi wilayah yang lebih luas dan lebih luas lagi. Setiap menaiki anak tangga, dan kita sampai pada lantai yang ke sekian, kemudian kita akan tersadar bahwa di atas ini masih ada lantai yang lebih tinggi lagi.. terus dan terus.. hingga jatah energi untuk menaiki anak-anak tangga tersebut habis oleh karena takdir..

Jadi, janganlah kita merasa telah berada di puncak sepuncak-puncaknya, karena di atas langit, pasti masih akan ada langit.. di atas tempat kita berdiri saat ini, masih ada lagi tempat di atas yang niscaya akan menyuguhkan pemandangan yang lebih luas dan lebih indah lagi..insyaAllah..

Alhamdulillah…

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s