Coral Questions ~contemplating me~

Standard

Bismillah…

curious..

Berjalan di antara hidup-mati seseorang. Merasakan lebih dekat bagaimana setiap komponen dalam tubuh manusia bekerja. Komponen tersebut yang berada dalam letihnya, dalam kesehariannya, serta dalam peranannya sebagai satu bagian dari masyarakat besar. Itulah dunia medis. Tanggung jawab ibarat sebuah pikulan besar yang tertanam di pundak, kemana pun dan kapan pun akan terus dibawa. Sehingga jiwa yang lapang pun menjadi kebutuhan primer bagi sang pemikul untuk menopang beban tersebut. Agar hidupnya tak terlindas oleh berat bebannya. Ya, jiwa yang mampu menempatkan segala pertanyaan dan jawaban alam ini pada tempat yang sesuai.

“apa arti kehidupan ini?”

“apakah kematian dan bagaimana setelah manusia meninggal?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang harus sudah dimiliki jawabannya, dan tak boleh dilupakan, apa pun yang menimpa diri kita.

Setiap satu jiwa meregang di hadapan mata, sembari tubuh ini berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan.

Setiap kali merasakan ruang yang sama, yang disana hadir malaikat pencabut nyawa, walau mata tak bisa memandangnya.

Setiap kali berdiri pada posisi “orang lain” bagi sang almarhum dan keluarganya.

Setiap kali itu pula, seolah ada batu bata yang tersusun di dalam relung jiwa.

Satu demi satu. Batu bata itu seperti menyusun sebuah tembok,  yang membentengi jiwa ini dari kenyataan yang sedang dihadapi. Dan lama kelamaan, ia pun meredam getaran-getaran yang dahulu muncul setiap menyaksikan dahsyatnya sebuah “kematian”.

Sakit kah saya..?

Waktu pun berlalu tanpa saya dapat menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Namun ada sebuah penemuan yang rasanya cukup berarti. Setelah sekian lama, ternyata batu bata itu menyusun sebuah ruang khusus sebagai tempat penyimpanan sebuah rasa yang sulit diungkapkan dengan kata. Tanggung jawab, kesedihan, ketakutan, optimisme, serta harapan berkumpul menggumpal menjadi satu di ruang itu. Ia pun sepertinya terbawa hingga alam bawah sadar, terkadang memberi sinyal dengan mimpi-mimpi berkesan yang acap kali menghadirkan gambaran yang begitu “riil” tentang bagaimana dahsyatnya sebuah “kematian”. Dan mimpi-mimpi itu pun selalu meninggalkan pesan peringatan tentang sebuah kepastian yang akan dihadapi setiap makhluk Allah yang bernyawa. Lebih gamblangnya adalah kepastian akan “kematian” bagi “saya”, “Anda”, dan “kita semua”.

Mungkin saya memang sakit..

Karena Allah menciptakan semua berpasangan, maka hadir pula jawaban sebagai pasangan dari pertanyaan. Namun, tak mesti kata yang bertanya menghasilkan buah jawab kata pula.

“Rumah adik dimana?”

“Apa menu makan siang  hari ini?”

“Orang tuamu astronot ya?”

Telah siap jawaban bertengger di hadapan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Namun tak jarang juga, hati manusia akan bertanya,

“apa bekal saya untuk kehidupan setelah mati nanti?”

“Bagaimana saya kelak mempertanggungjawabkan amal-amal yang telah saya perbuat?”

“kapan kematian datang menjemput saya?”

Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut memiliki jawaban?

Saya dengan yakin akan menjawab: “ya”. Semua pertanyaan itu memiliki jawaban. Namun bisa jadi tidak dalam “kata”, melainkan dalam “makna”. Begitu banyak pertanyaan di dunia ini yang membuat manusia lebih bergairah menjalani hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan yang akan terus dan terus dipertanyakan sepanjang masa. Seperti “akan menjadi manusia seperti apakah saya?”, “apakah kelak saya meninggal dengan keadaan yang baik?” kalau boleh saya menamakan, ini seperti….

“Coral Questions”!

Pertanyaan mendasar yang dimiliki setiap manusia. Pertanyaan yang memiliki sebuah jawaban berupa energi. Energi macam apa? Itu sesuai bagaimana jiwa manusia tersebut mengolahnya hingga menjadi sebuah jawaban.

aha! That’s life!

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu akan bertemu dengan jawabannya, kelak di hari yang tepat. Hidup ini adalah jalan untuk membuat jalur bagi para pertanyaan itu menemukan jawaban terbaik di akhir perjalanannya.

Perjalanan mencari jawaban untuk setiap pertanyaan= Life is so simple

Tapi sekali lagi, jawaban itu tak selalu dalam bentuk “kata”. Ia barangkali menyelinap di sendi-sendi kecil kehidupan kita. Dalam aktivitas harian kita. Bagaimana kita dapat terus menelisik ke setiap makna di dalamnya. Itulah mengapa Allah ciptakan kita lengkap dengan hati dan akal. Satu hal yang mutlak dibutuhkan adalah iman. Jika iman sudah digenggam erat, yakinlah jawaban itu akan hadir, dalam perjalanan kita mencarinya.

Mudah-mudahan ia adalah dalam bentukan  yang luarbiasa indahnya.

Dalam hari yang masih banyak canda dan tanya,

Pemalang 1 Maret 2012

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s