Berbakti pada… -Keempat- Orangtua

Standard

22 April 2012, hari Ahad yang cerah!

Cuaca Pemalang memang sangat cocok untuk mengeringkan jemuran: panas dan berangin. Pernah saya mencuci mukena ba’da zuhur, kemudian saya sudah bisa memakainya kembali saat solat asar di hari yang sama. Luar biasa bukan? 🙂 begitulah Pemalang yang memiliki semboyan kota: Ikhlas → “Pemalang Ikhlas” → semoga orang-orang di dalamnya pun ikhlas 😀

Oke, kita cukupkan prolognya, saudara-saudara. Masih dalam suasana hari Kartini, maka tema kali ini adalah tentang keluarga! Family 🙂 Yah, mudah-mudahan ada pesan yang bisa dipetik, meskipun hanya satuuu saja. Sebenarnya ini adalah 2 point rangkuman dari seminar yang saya hadiri hari ini, yang bertajuk “Peran Perempuan dalam Pengarus Utamaan Keluarga”(ow..ow..), menghadirkan dua nara sumber yang spektakuler(^^) dan telah memberi oleh-oleh yang berharga bagi saya untuk dibawa pulang, direnungkan, dibagi, dan dilaksanakan kelak tentunya, insyaAllah. Dua pembicara tersebut adalah Dra. Zubaedah, seorang aktivis lembaga Aisyiyah dari departemen agama, dan dr. Maryati dari  Bidang Perempuan DPW Partai Keadilan Sejahtera Jateng (mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama, gelar, dan amanah).

2 point yang dimaksud adalah terkait fungsi keluarga, dan berbakti kepada keempat orang tua..

Markisim ←(‘mari kita simak’)

*****

“Pengarus Utamaan Keluarga” kata-kata yang tak biasa, tapi sangat mengaplikasikan tata bahasa Indonesia. Pertama kali saya membacanya, saya kira salah ketik atau bagaimana, ternyata artinya adalah “Peng-arus utama-an Keluarga” → frase “arus utama”  yang diberi imbuhan “Peng-an”.. baru saya mudeng. Jika diterjemahkan kepada bahasa inggris, kira-kira menjadi “Family Mainstream”.

Dari sini kita dapat membayangkan sebuah keluarga yang menjadi poros peradaban. Kebijakan-kebijakan di tengah masyarakat yang memperhatikan aspek pengokohan keluarga sebagai tonggak utama membangun kesejahteraan. Ya, memang perbaikan diri harus diikuti dengan perbaikan keluarga. Keluarga yang kokoh dan berkualitas akan berperan penting untuk mencetak generasi yang kokoh dan berkualitas pula. Dari lingkaran terkecil masyarakat, dan madrasah pertama seorang manusia di muka bumi, ‘keluarga’, inilah sebuah arus dahsyat akan tercipta.

Sangat bisa dinalar, bukan? Ketika pembinaan diri di dalam keluarga beres, maka masing-masing keluarga itu akan menciptakan RT yang beres, lalu RT-RT yang beres akan membentuk RW-RW yang beres..pun demikian seterusnya, kelurahan, kecamatan, kota, provinsi, negara, dan akhirnya dunia yang beres.

Mantap sekali.

Dan insyaAllah untuk Indonesia tercinta, kita tak ingin ini hanya sebatas wacana. Generasi Rabbani yang pernah berkilau dalam kejayaannya, insyaAllah sesuai janjiNya, akan kita raih kembali, walau bisa jadi setelah kita tak lagi menginjakkan kaki di bumi. (tidak juga di bulan, hehe)

Ada fungsi-fungsi keluarga secara mikro dan makro, yang harus kita optimalkan. Dalam fungsi mikro, yakni:

1. Memelihara Fitrah

Tentu yang dimaksud adalah fitrah manusia sebagai makhluk yang Allah anugerahkan rasa kasih sayang. Anugerah yang indah ini perlu dipelihara dengan kebaikan-kebaikan yang bersemi di dalam keluarga. Misalnya nih, seorang istri hendaklah merawat dirinya karena Allah, untuk menjadi istri yang menyejukkan mata dan hati sang suami. Dan hal-hal lainnya..

2. Memperoleh keturunan

Data demografi dunia berbicara, bahwa jumlah umat Islam kian bertambah dan akan terus bertambah. Di Inggris, Amerika, Rusia, juga di negara-negara Eropa. Kenapa? Karena umat Islam memiliki banyak keturunan. Semoga dengan ilmu yang Allah anugerahkan, kita dapat mencetak generasi penerus yang tak hanya Rasulullah banggakan karena banyaknya jumlah, tapi juga Rasulullah beri syafaat karena kontribusinya di jalan da’wah serta kebaikan.

3. Mendapat kondisi SAMARA

Sakinah, mawaddah, warohmah..

Sakinah yang meliputi kejujuran, ketaqwaan, dan keimanan kepada Allah. Landasan ‘karena Allah’ inilah yang akan mengokohkan hubungan keluarga hingga kelak di akhirat, dan melahirkan mawaddah wa rohmah. Mawaddah yang merupakan kasih sayang, yang ditumbuhkan dengan taburan kebaikan, misalnya dengan kejutan-kejutan manis kepada pasangan. Serta wa rohmah, yang berkaitan dengan kewajiban, baik bagi suami yang menafkahi, mendidik, dan menjadi teladan, maupun bagi istri dalam mena’ati suaminya

4. Memperoleh Pendidikan

Setiap anggota keluarga memiliki hak yang sama terkait pendidikan. Seorang anak mendapatkan pendidikan pertama di rumah, bahkan semenjak ia dilahirkan di muka bumi, Ia telah diajarkan tentang identitas diri: sebagai seorang laki-laki, atau perempuan, dengan memberinya nama yang baik. Pun sama halnya dengan orang tua, terus belajar agar dapat menjadi bagian dari generasi Robbani 🙂

5. Terimplementasikannya sosialisasi atau pewarisan nilai-nilai

Ketika menjadi seorang anak (dan tentu akan selamanya menjadi anak dari orang tua kita^^), kita dibesarkan dengan beragam nilai dan budaya. Seiring bertambahnya usia, asupan nilai-nilai ini tak terbatas dari dalam rumah tangga saja, hingga kita menemukan nilai-nilai yang menurutnya ingin diterapkan saat kelak berkeluarga. Pewarisan nilai inilah yang perlu dijaga agar benar-benar terlaksana dengan baik.

6. Memperoleh perlindungan

Rumah adalah tempat seorang anak pulang kemudian merasa aman, tempat seorang ayah yang lelah sepulang kerja mendapat kehangatan, serta tempat seorang ibu untuk mencurahkan segala kemampuan dalam bersama membangun peradaban 🙂

7. Terpenuhi kebutuhan fisik dan ekonomi

Ikhtiar yang optimal untuk perkara yang satu ini tentunya ya, saudara-saudara 🙂

Sedangkan untuk fungsi makronya adalah: MEMBANGUN PERADABAN 🙂

Memang kesemua fungsi diatas adalah idaman yang menjadi mimpi seluruh keluarga, saya rasa. Mari kita hiasi dengan Ikhtiar, karna ingat, Allah akan selalu melihat proses dan kesungguhan tiap-tiap diri kita 🙂

Nah, kini poin kedua! Sebenarnya mungkin kita sudah sering mendengarnya, dan seolah-olah telah terbentuk stigma runcing sedari zaman nenek moyang kita tentang perkara yang satu ini: Mertua dan Menantu! (ow..ow..) tenang saudara-saudara, saya sekadar akan menyampaikan kabar gembira, bahwa ternyata ada lho, jurus jitu untuk menjalaninya dengan penuh makna. Dan saya sebatas menyampaikan pengalaman sang pembicara tadi, karena saya sendiri juga belum pernah punya pengalaman.hehe. Kuncinya adalah simpel saja.. Beliau menceritakan tentang nasihat ibunya saat hendak menjelang pernikahan.  Kira-kira seperti ini:

“jangan lupa Nduk, seorang istri itu ‘milik’ suaminya, sedangkan seorang suami itu tetap ‘milik’ ibunya. Ibunya lah yang telah membesarkan, mengasuh, dan mendidiknya dengan penuh cinta. Ibaratnya, ia telah menumbuhkan sebuah benih, lalu ia besarkan, rawat, diberi asupan cairan dan sinar mentari yang memadai.. hingga, kini benih itu telah berbunga, kemudian berbuah.. dan saat hendak memetik buah itu, ia mengajakmu untuk memetiknya bersama.. jangan sampai kau biarkan ibu dari suamimu tak bersama memetik buah yang telah ranum itu..”

Ya, pada akhirnya memang sederhana, saudara-saudara. Dengan mencamkan satu hal dalam diri kita, yakni: “semangat berbakti pada mertua, Lillah”^^9 yang juga tentu adalah orang tua kita. Dan sebenarnya saya tidak terlalu pas dengan kata ‘mertua’, kenapa perlu dibedakan dengan ‘orang tua’ ya? Kalau sudah menikah, bukankah ke-empatnya adalah orang tua kita? Walalupun ya tetap tidak dapat dikatakan sama plek. Tapi hormat kita, kasih sayang kita, dan bakti kita insyaAllah tak berbeda.

So, di jalan pulang seminar ini saya berpikir.. jika suatu saat anak2 kita sudah besar dan telah menikah, mungkin doa yang kita lantunkan akan sedikit berubah seperti ini ya..:

“Ya Allah, jadikanlah anak kami menjadi hamba yang Ta’at padaMu, mengikuti RasulMu, dan berbakti pada keempat orangtuanya karenaMu..” hehe.. masa yang masih jauh banget ya, sepertinya.. 😛

Mudah-mudahan kita semua senantiasa dikuatkan dalam memegang niat awal membangun rumah tangga di jalanNya, menjaga setiap langkahnya dengan kesabaran dalam taat yang meningkat, serta diberi kemampuan untuk berlayar di samudera luas yang akan penuh ombak, angin, petir,, dan juga pelangi kelak! dengan bahagia karenaNya selalu 🙂 aamiin

“Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia….” (HR Al Hakim)

Pemalang, akhir April 2012 –3 bulan kurang menjelang bulan Ramadhan—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s