Suju, Power Ranger, dan Supertrap!

Standard

Pekan lalu, media informasi di nusantara sempat dihebohkan dengan kedatangan musisi tamu dari negeri ginseng, Super Junior alias Suju. Tak dapat dipungkiri, kepopulerannya di kalangan anak muda tanah air terutama para remaja putri memang luar biasa dan menyita banyak perhatian. Kalau saya sendiri tahu Suju sejak tahun 2010 saat rotasi klinik, dimana kami koasisten berkelompok sering tugas keluar kota dalam waktu yang cukup lama, menghabiskan waktu hactic dan santai bersama, hingga bisa mengetahui hobi dari masing-masing anggota. Salah satu yang dapat saya ketahui dari teman-teman saya adalah hobi Korea. Ternyata banyak sekaaliii grup band disana, drama-drama, juga movie-movie, dan saya lebih ternganga lagi karena teman-teman saya cukup faham mendalam bahkan hafal personil-personil grup band yang bejibun itu..he.. Okay, its okay.. kalau saya pribadi terkesan dengan pola hidup sehat artis-artis itu, setiap hari pastinya mereka berlatih menari, bernyanyi, hingga saya membayangkan pasti tubuhnya sehat bugar dan jarang sakit. itu saja..  🙂

Namun ada satu hal yang cukup membuat saya heran saat kedatangan Suju pekan lalu di Indonesia. Yakni berapi-api nya para fans!! demi menyambut kedatangan personil ‘impian’ mereka di bandara, ada yang rela menginap disana, berbagai atribut pun mereka lengkapi, mulai dari kostum hingga poster besar bertuliskan “Marry me!” (ow..ow.. yakin nih mba?). Dan gongnya adalah saat tahu bahwa ternyata sang tamu sudah keluar dari gate lain, akhirnya mereka pun patah hati, sedih, menangis, dan menyesali diri: ‘mengapa ini harus terjadiii…!’ saya jadi bertanya-tanya.. mengapa sampai segitunya ya??? Lalu, demi mencari jawaban yang objektif, saya mencoba berempati(sementara) dengan merefleksikan pada diri sendiri, sepertinya saya pun pernah punya episode kehidupan demikian beberapa tahun silam, bersama Power ranger..

Ya, masih saya ingat, saat itu sekitar kelas 4 SD. Saya terobsesi dengan para personel power ranger yang super keren (menurut saya dulu) dalam membasmi kejahatan dan membela yang lemah tanpa pandang bulu. Aksi mereka membuat saya deg-degan, terharu, dan terkagum-kagum. Terutama dengan si ranger merah-nya yang karismatik (kalau tidak salah). Saya berulang-ulang menonton video-nya tanpa bosan, bahkan theme songnya pun saya hafal! (walaupun sekarang sudah lupa) Hingga suatu hari, dengan menguras keberanian yang dimiliki, saya pun memohon kepada Ibu saya: “Mah..! aku pengen ketemu sama ranger merah! Aku pengen ke studio syuting power ranger itu Mah! Gimana caranya yah…!???” saya agak lupa ekspresi Ibu saya saat itu bagaimana, tapi sesungguhnya saya benar-benar serius (sedikit bercampur malu) memohon hal tersebut pada Ibu saya. hehe.. namun waktu pun berlalu, tanpa terkabulnya keinginan saya di alam nyata, dan keinginan(yang aneh) tersebut akhirnya hilang ditelan perkembangan diri di dalam masa..

seri ini yang dulu saya suka kalau tidak salah..

Dari kenangan tersebut, saya jadi sedikit mengerti mengapa sampai segitunya mbak-mbak itu ‘memperjuangkan’ apa yang mereka inginkan. Ya, karena saat itu adalah segalanya bagi mereka. Bisa jadi, setelah kembali ke kehidupan nyata dan menghadapi realita, mereka kembali pada ‘kesadaran’ sesungguhnya. Kesadaran tentang hidup, tentang adanya Tuhan satu-satunya yang layak disembah dan kita curahkan segala daya untukNya. Dalam hal ini saya mengambil fenomena yang terjadi di reality show ‘Supertrap’.

Supertrap memang selalu ‘niat banget’ dalam menjebak para target. Di antara banyak tipe jebakan, salah satu yang cukup sering adalah genre jebakan horor. Dengan properti-preoperti yang mereka lengkapi, suasana horor dan keanehan-keanehan pun dapat terbentuk dengan sangat baik. Lalu, apa yang terjadi pada para target yang ketakutan dalam jebakan tersebut? Reaksinya macam-macam tentunya. Ada yang teriak-teriak, melarikan diri, dan tak jarang juga yang berdzikir. Ya, berdzikir saudara-saudara. Segala ayat-ayat yang telah dihafal mengalir deras dari bibirnya dengan sepenuh asa. Ini dia yang saya maksud. Ketika seseorang benar-benar terdesak dan merasa tak berdaya, barulah ia kembali ‘merengek’ kepada Tuhannya.. memohon perlindungan dan meminta diselamatkan. Dan tentu Tuhan amat Pemurah, jika manusia dimintai tolong saat butuh saja mungkin akan ngomel: “idiih..dateng pas ada maunya ajah..” tidak demikian dengan Tuhan. Pintu ampunan dan kasih sayangNya senantiasa terbuka bagi para hambaNya yang sungguh-sungguh memohon, hingg ajal datang menjemput dan pintu taubat pun ditutup.

**Jadi, intinya apa yang saya ingin sampaikan dari ketiga refleksi di atas? Suju-power ranger-dan super trap??

Pertama, menurut saya, fenomena Suju adalah fenomena ekspresi. Seperti perkembangan anak. Anak akan mulai menangis jika memiliki sebuah keinginan, sebuah pesan yang ingin disampaikan. Saya coba menamakannya dengan ‘fase ekspresif tak terkontrol’. Menangis adalah satu-satunya ekspresi yang mereka tahu dan mampu. Namun setelah sekitar umur tiga tahun dan mereka pun menemukan cara lain untuk mengekspresikan apa yang ingin disampaikannya (selain dengan cara menangis), intensitas menangis mereka pun akan berkurang dengan sendirinya..

Semakin banyak tahu, semakin kita dapat membedakan sesungguhnya mana yang lebih penting bagi kita.. bagaimana agar dapat tetap mengekspresikan keinginan  yang menjadi fitrah dengan cara yang baik dan terkontrol. Buktinya adalah yang saya alami bersama power ranger-sang impian-..hehe. Seiring berjalannya waktu dan kita tambah mengerti apa yang sebenarnya penting dalam hidup ini, maka kita pun mulai bisa membedakan sesungguhnya apa yang berbobot dan tidak berbobot untuk dilakukan dalam hidup yang hanya sekali.

Bagi realita para remaja seperti di atas, selain kesadaran pada diri tentunya, juga dibutuhkan peran orang-orang terdekat yang telah ‘sadar’ untuk mempercepat ‘fase ekspresif tak terkontrol’ yang mungkin sedang mereka alami. Bukan malah mencibir dan meninggalkannya.. Why kenapa? Karena Tuhan masih tetap ada di hati mereka selalu. Buktinya ya seperti yang dilihat di Super trap! Walaupun mungkin saat ini kesadaran akan Tuhan tersebut baru bisa dibangkitkan dengan sedikit pendesakan (semacam rasa takut dan tertekan), tapi jika ‘ketegangan’ tersebut terus dipelihara dengan cara yang baik, pastinya suatu saat, ingatan mereka kepada Tuhan tak hanya muncul saat ketakutan saja, melainkan setiap saat, setiap langkah, merasakan pengawasan dan kuasaNya yang bekerja pada diri kita.

Maka, yang belum bangun, ayo kita bangun 😀 yang sudah bangun, ayo bangunkan lagi banyak orang-orang di sekitar kita. insyaAllah kita bisa, dan saya selalu optimis akannya.

*Thanks for Suju, Power ranger, dan Supertrap yang telah menjadi perantara hikmah bagi saya.. walaupun saya keberatan kalau diminta jadi fans atau penonton setia kalian.. 😛

Pemalang –alhamdulillah, akhirnya hujan juga-, 3 Mei 2012

Advertisements

2 responses »

  1. Seperti kemarin, sebenarnya saya juga pengen nonton Laruku.. Tapi tidak sampai tergila-gila.. sebagai gantinya, saya putar musiknya di komputer.. hehe.. Tapi ada satu yang bakal membuat saya bingung persiapannya, yang membuat saya sibuk ke sana kemari demi dia, adalah Rasulullah Saw. sang idola sesungguhnya.. coba, andai Rasul ada pada jaman sekarang, kita mau ngapain coba? hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s