Pemalang Story #2: Ketika Darah Bicara..

Standard

Bicara tentang darah, tak jauh memang dari ruang gawat darurat.. tak jauh memang dari keseharian seorang tenaga kesehatan.. dan.. tak jauh pula dari cerita tentang kematian…

*Pemuda yang terlebih dulu datang*
3 hari menjelang memulai praktek keperawatan di RS dr. M. Ashari Pemalang. Ditengah perjalanan menuju rumahnya, takdir menyuratkan ia datang lebih dulu dari pada semua teman-temannya. Ke RS ini. Namun ia datang tak dengan gagah putihnya balutan seragam, tak juga dengan semangat tholabul ilmi yang berapi-api. Ia datang dengan kesadaran yang mengambang. Derasnya darah yang mengucur tak pelak untuk kami imbangi dengan puluhan flabot infus serta obat-obatan yang terpasang di kedua tangannya. Pukul 17.30 hingga 21 malam ia disini bersama kami, di ruang gawat darurat. Kesadarannya yang waktu demi waktu menurun, dan darah merahnya yang tak kuasa untuk kami membendung, seolah mnyampaikan salam terakhir untuk meraka yang akan kau tinggalkan. Ia yang anak tunggal..ia yang akan segera diwisuda.. tapi takdir berkata, kau untuk datang terlebih dahulu.. mendahului semua teman-teman seprofesimu..mendahului semua harap dan angan kedua orangtuamu.. mendahului semua rencana manusia,untuk menjawab takdir Yang Maha Kuasa…
Semoga kau damai disana..

*Mami, Becak, dan Pistol*
Perampokan terjadi di dekat pasar yang berjarak kurang lebih 100m dari RS. sang korban kini berada di hadapan kami. Wajah chinese putihnya yang cantik terlihat tambah putih dan kini pucat. Pakaiannya hanya basah dengan satu warna: merah. Ia tak berdaya di atas becak yang mengantarnya kemari. Sedang darah segarnya terlihat begitu deras mengucur dari luka kecil yang menganga di lehernya. “…..ah..” apa yang harus kukata, daya semampu upaya kami perjuangkan bersama. Kembali terasa kerja tim yang dahsyat di ruangan ini, lantai yang licin oleh genangan darah pun menjadi saksi akan sebuah kerusakan nurani yang tengah melanda negeri kita tercinta.. pukul 16.40 hingga 18.40.. ruang penanganan tertutup rapat kecuali bagi para tenaga yang tengah berjuang mengitari ambang hidup-mati seseorang. Hingga, ia pun menghadap Yang Maha Kuasa… Dan kini, di depan saya telah duduk sekian anggota keluarga, termasuk suaminya. Ini adalah salah satu masa yang berat bagi kami, masa untuk menyampaikan berita duka. Bibir begitu kelu untuk menyatakannya..telinga pun ngilu untuk mendengar isak tangisnya.. sedang hati tak mampu lagi selain untuk menahan segala kecamuk yang bertubi-tubi menghadang.
“…Mi…kasihaan anak-anaak..Mi…”
Kalimat yang kudengar dari bibir sang suami..
Selamat jalan,Mami.. Di atas becak, kau dihadang oleh pistol tak bernurani.. namun.. darah yang telah kau curahkan, tak pernah berarti sia-sia bagi kami..

*monolog*
Keheningan tengah malam terasa menusuk-nusuk tulang belakangku. Sedang kedua tangan tak henti terus menggosok jas putih yang basah dengan air sabun. Noda merah, yang telah kecoklatan, mulai pudar ditelan ampuhnya duet air dan sabun. Darah itu mulai larut.. darah orang-orang yang kubersamai saat-saat terakhirnya.. Darah mereka yang menjadi perantara hilangnya sebuah nyawa.. karna kau begitu banyak keluar, karna kau berada di luar tempat yang semestinya kau berada..

Tapi,tak ada yang salah dari takdirNya. Inilah yang terbaik.. inilah yang terbaik..

Memang tak ada satu kejadian pun yang pasti di dunia ini..kecuali satu hal.. ya, satu hal itu adalah kematian..

Sudah berbekal apakah kita…?

–menuju Bandung, 20 Mei 2012–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s