Pemalang Story #3: Ramadhan is Comi~ng! partOne

Standard

Euforia melanda bumi Pemalang! InsyaAllah kurang dari 24 jam menjelang kedatangan tamu agung yang tengah dinanti umat muslim seluruh dunia! Ramadhan kareem 🙂 aromanya kian terasa mendekat, diiringi dentingan ranting pohon tertiup angin bersahutan, nyanyian jangkrik hiasi kesyahduan malam, juga semilir udara halus membelai wajah dengan senyum merekah. Semoga Allah sampaikan kita semua padanya, dan Allah beri kita kekuatan untuk berikhtiar sekuat tenaga menggapai keutamaan yang ia bawa.. menuju kemenangan jiwa, kebebasan hati dari belenggu iri dan dengki, serta segala penyakit yang menggerogoti. InsyaAllah, aamiin

jelang Maghrib di Pemalang

Hari pertama Ramadhan memang selalu berkesan. hari pertama Ramadhan di tahun 2010, bertepatan dengan dimulainya stase kandungan-kebidanan di RS Klaten. Hari-hari Ramadhan yang dilalui di: Asrama Koas-Kamar bersalin-Bangsal-Masjid RS-Asrama Koas-dst… kadang-kadang menghirup udara dunia luar, dan saya ingat sekali.. saat sholat Ied di halaman depan RS Klaten, angin yang berhembus begitu segaar.. Alhamdulillah. Lalu tahun 2011, kami sedang menjalani rotasi terakhir masa koas di Cilacap. Alhamdulillah dikaruniai ibu Kost, kawan kelompok, dan lingkungan rumah yang begitu kondusif untuk menghidupkan nafas Ramadhan disana. Banyak momen dan keputusan penting yang dihasilkan di Ramadhan tahun lalu, termasuk untuk mulai menulis blog ini 🙂 (mudah-mudahan bisa terus istiqamah). Tak lupa.. Pantai Teluk Penyu! yang hanya berjarak 10 menit dengan mengendarai motor, menjadi tempat favorit untuk merenung dan berkontemplasi barang 30 menit seusai subuh hari. Alhamdulillah. Kini 2012, masih di tanah rantau, kali ini Pemalang! Secara jarak, makin ke Barat, mendekati Bandung, my home sweet home.. 🙂 Akan selalu ada lahan terangkul bagi petani yang siap mencangkul. Saya juga ingin mencangkul hikmah yang terserak, yang tengah menanti rangkulan dari petani ilmu yang siap merenungkan dan mengamalkan nilainya. Pemalang mengajarkan saya tentang apa itu dunia nyata. Dunia bermasyarakat. Sebuah dunia kongkret yang memang berbeda dengan dunia-dunia yang telah saya huni sebelumnya. Dunia sekolah yang penuh gairah, serta dunia kampus yang penuh idealisme telah dilalui, kini saya berada di sebuah dunia nyata yang telah menanti untuk mewarnai saya, atau diwarnai oleh saya. Itu pilihan dan sesuatu yang harus diamalkan 🙂

from Deede Kharisma’s photography

Dugem alias duduk2 gembira melingkar, aktivitas rutin yang menjadi kubutuhan jiwa raga saya, kini sedikit berbeda warna. Ia dihiasi tangisan dan kehebohan calon-calon pembaharu masa depan yang diajak sang ummi,  juga cangkir-cangkir berisi teh manis hangat fresh from the kitchen (saat mahasiswa, biasanya satu atau dua gelas untuk rame2… ups!;p), lengkap dengan jemputan para abi yang sudah menanti di depan rumah seusai kegiatan. Hehehe. Walau berbeda warna, Ia tetap bercahaya. Ya, selalu dan selalu menjadi lingkaran cahaya bagi sayaJ pun sama halnya dengan forum-forum lainnya. Ada ibu(..mungkin tepatnya nenek ya) yang telah berusia 70 tahun lebih, jalan pun pelan-pelan, namun semangat mengajinya menyala-nyala. Hingga saya yang muda pun dibuat malu oleh semangatnya itu..

ibu-ibu seusai Yasinan 🙂

Pada satu kesempatan, dalam camping Al Quran beberapa minggu lalu yang saya ikuti selama 3 hari 2 malam, saya bertemu dengan sosok-sosok ibu keren (pakai banget). Menggendong bayinya di lengan kiri, sambil terus membaca mushaf di tangan kanannya sembari menimang-nimang. Ada pula yang mengajak si mbah nya untuk menjaga sang buah hati sementara ia menyelesaikan setoran hafalan dengan ustadz. Dan lagi-lagi, ritual seusai acara.. yakni pasukan penjemput: para abi yang sudah merindukan istri dan anaknya setelah terpisah selama 3 hari 2 malam. Hehehe.. Di awal acara, saat sambutan pembukaan kami dipantik semangat dengan diajak berfastabiqul khairat untuk menjadi bidadari-bidadari seperti dalam surat Ar Rahman ayat 72.. “Huurum maqshuurootun fil hiyaam..(bidadari-bidadari yang depelihara di dalam kemah)” “kita kan mau kemah nih..!” ujar sang pembawa acara yang disambut senyum para peserta. Dan mungkin telah saya temukan sosok-sosok bidadari itu di sini. Para ibu, mujahidah yang begitu menginspirasi dengan kesungguhannya. Satu keluarga bersatu padu saling menyokong.. dan itu pula lah yang dikatakan oleh peserta terbaik camping Al Quran kali ini, seorang ummahat yang berhasil menyelesaikan hampir 30 juz dan setoran hafalan 1 juz. “Dukungan keluarga lah yang menjadikan saya terus semangat dan dapat fokus pada Al Quran.. si mbah yang sengaja ikut untuk jagain ade (putranya-pen), juga suami yang terus mengontrol kegiatan ibadah saya disini via komunikasi HP..” Masya Allah.. 🙂

ngaji bareng buah hati

Begitulah Pemalang mengajarkan banyak hal pada saya.. insyaAllah tulisannya bersambung lagi, dengan poin-poin hikmah yang lebih rigid. mohon dimaklumi jika tulisan kali ini lebih banyak curcol.. mudah-mudahan ada hikmah yang bisa dicangkul pula! Selamat menggapai keutamaan sang Bulan Mulia, Ramadhan! 🙂

satu sudut bersama Bunda dan Quran 🙂

Malam Pemalang, 18 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s