Sabarmu, Semangatmu, Bangun Jalanmu!

Standard

“Selalu ada jalan terbentang bagi siapapun yang terus berjuang…”

at Djogja Istimewa 🙂

Sering sekali statement ini kita dengar. Ntah benar-benar terinternalisasi maknanya atau tidak, yang jelas ia akan membangkitkan semangat juang walau hanya sesaat. Di titik-titik kritis, bahkan di ujung ambang keputus asaan sekalipun.

Kita semua tentu merasakan bahwa hidup ini tak selalu mulus, kalau kata sebuah iklan, “Life is never flat!”. Yap, benar banget itu. Tapi dalam kondisi ber-gronjal-gronjalnya jalan hidup sekalipun, Allah senantiasa memberikan kita ‘pasir, batu, aspal, dan bahan-bahan lain’ untuk membuka jalan maju ke depan. Hanya saja terkadang kita malah menyalahgunakan bahan-bahan tersebut untuk hal lain..(korupsi dong?) misalkan membangun tembok menjulang yang memutus lahan untuk memandang luas ke depan, atau malah membuat rumah singgah yang memanjakan kita hingga lupa untuk melangkah maju ke depan. Padahal jika kita mau bersabar, hilangkan rasa malas, dan teguh pada cita-cita awal, energi dan kapasitas kita sungguh sebenarnya mampu untuk membuka dan membangun jalan, ntah yang mulus seperti jalan tol, atau berpasir, atau yang berbatu-batu sekalipun! Intinya masih bisa membuat JALAN.

Ah.., terlalu banyak hal yang mengawang, kini sebaiknya kita pijakkan pembahasan ke tanah alam nyata saja.

Dalam acara grand final ajang pencarian bakat yang sempat menjadi buah bibir warga Indonesia beberapa saat lalu (inisial I.I.), seorang dan satu-satunya juri wanita pada kontes tersebut (you know who lha) dimintai pesan semangat untuk para penonton, bagaimana bisa se‘sukses’ seperti ia sekarang. Lalu dengan delik mata  yang tajam, sang juri itu pun berkata:

“Jangan pernah PUAS dengan capaian-capaian kita sekarang!”

glek..

statement yang (menurut saya) apa adanya dan memang begitulah adanya. Menyiratkan bahwa ia memiliki sebuah cita-cita besar di hadapan, orientasi dan tujuan, dan ia tak lupa untuk menujunya merintis jalan.

Masih ada langit di atas langit, masih ada jalan di ujung jalan.

Apakah seorang Lintang dalam kisah tersohor negeri kita “Laskar Pelangi” mampu begitu menginspirasi walau ianya putus sekolah, jika saat berangkat menuju surau pendidikan ia bertemu buaya di rawa kemudian malah berbalik arah pulang ke rumah? Hmm.. Apakah juga sesosok Handzalah, sang syahid yang dimandikan para malaikat, menjadi pelecut semangat bagi jiwa-jiwa di akhir zaman dengan ruhul istijabah-nya, jika saat panggilan jihad berkumandang ia tetap di rumah, dibuai kenyamanan malam pertamanya sebagai seorang pengantin baru? Saya rasa jawaban untuk keduanya adalah TIDAK. Mereka tak membangun tembok yang menjulang untuk kembali mundur ke balakang, tak juga membangun rumah singgah yang membuaikan hingga mengurungkan kaki-kaki untuk melangkah maju ke depan. Tak ada tembok, tak ada juga rumah. Mereka telah membangun JALAN. Dengan mengais bahan baku yang terserak, menghimpunnya penuh kekuatan jiwa, lalu menyempurnakannya atas keyakinan doa.

Kalau kata lagu Big Yellow Taxi: “Don’t it always seem to go, that you don’t know what you got till its gone..” saya mau bilang: “Don’t it always seem to come, that you don’t know what you’ll get till its came” (Englishnya maksa tenan nih). Kita belum akan tahu kemana sebenarnya takdir kita, masa depan dan lahan yang menjadi rezeki kita, jika kita tak melangkah ke depan membuka jalan. Bukan hal yang mudah memang, ya sama seperti kalau kita mau out bond, membuat rute baru, kan harus nebang-nebang ranting sambil kadang tersayat-sayat.

Ada kisah lain saat saya sedang di persimpangan jalan sudut kota Bandung. Saya melihat penjual koran dan berniat untuk membelinya. Sang tukang koran itu pun mendekat,… Namun apa yang terjadi? beberapa langkah sebelum sampai ke mobil yang saya kendarai, dan beberapa detik sebelum saya hendak menurunkan jendela, saat saya sudah siap-siap mengangkat tangan dan membuka mulut untuk memanggilnya,….. wow, tiba-tiba ia berbelok dan menjauh dari pandangan mata saya..! hingga saya pun mengurungkan niat untuk membeli koran tersebut. Ini bukan disebabkan oleh sentimen pribadi sang tukang koran terhadap saya, tentu saja. Tapi coba kalau ia maju barang selangkah lagi, mungkin ia akan melihat saya yang baru saja mau memanggilnya. Ya, tentu ini tak terlepas dari takdir akan rezeki sang tukang koran tersebut, tapi saya merefleksikannya pada kehidupan diri, mungkin selama ini banyak momen-momen dimana kita telah memalingkan diri kemudian luput dari rezeki yang sebenarnya sudah berada di depan mata, yang mungkin saja dapat kita peroleh jika saja mau bersabar sedikiit lagi… huft.. (kita berbicara dalam konteks berusaha,di samping dari pemahaman bahwa takdirNya adalah tentu yang terbaik bagi kita).. Anyway, terimakasih bapak tukang koran, mudah-mudahan hikmah ini menjadi amal jariyah yang telah kau ajarkan pada kami. Aamiin.

Dari refleksi-refleksi acak di atas, dapat lah sekiranya diri ini menarik kesimpulan, tentang betapa indahnya BERSABAR di titik-titik kritis, untuk tetap bertahan pada keyakinan meski tak mudah bagai yang diangankan., serta betapa pentingnya memohon selalu kepada Allah agar kita dijauhkan dari rasa malas untuk MEMBANGUN dan MENITI JALAN. Jalan panjang.

Saya pernah mengalami suatu masa kritis dimana sungguh ingin rasanya saya melarikan diri dari apa yang tengah saya hadapi di depan mata (baca: layar laptop dengan tampilan rencana penelitian yang masih blank..). ingin rasanya melarikan diri ke tab internet baru dengan alamat: facebook.com atau wordpress.com.hehe. Tapi alhamdulillah saat itu dengan pertolongan Allah saya masih diberi kekuatan untuk bertahan, dan bantuan dariNya berupa erornya dua situs tersebut (benar2 hanya dua situs itu saja yang tidak bisa saya akses saat itu..ckck..). eits..stop curcol. Alhamdulillah dibukakan jalan, selangkah demi selangkah untuk dilalui..

Kini, di bulan Ramadhan yang penuh keutamaan, yang semakin melejitkan pesona sebuah kesabaran untuk tetap istiqomah meraih passion yang semoga Allah meridhoinya, mari kita terus melangkah! Membangun jalan-jalan menuju cita-cita besar. Kesabaran dan doa jadikan sebagai bahan bakar energi, dengan Bismillah, insyaAllah akan ada jalan yang dapat kita bentangkan untuk terus maju ke depan. Menggapai takdir terbaik yang telah Allah persiapkan untuk diri-diri kita. insyaAllah…

Terakhir, ini adalah doa untuk memohon dijauhkan dari kemalasan, mari kita amalkan 🙂

“Allaahumma inni a’uudzubika minal hammi wal hazani wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali wa a’uudzubika minal jubni wal bukhli wa’auudzubika min ghlabatid daini wa qohrir rijaal”

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kapada-Mu  dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang, dan kesewenang-wenangan orang” (HR Abu Daud)

Alhamdulillah,

Pemalang, -saatnya kembali melanjutkan tulisan utama- 23 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s