Ultimate Goal…!

Standard

Study program in Japan: (Describe this in detail and concretely—particularly about the ultimate goal of your research in Japan)”

Kata-kata tersebut adalah judul sebuah kolom isian yang terdapat pada form “Field of Study and Study Program” untuk meng-apply beasiswa Monbukagakusho. Pertama membacanya, saya cukup terkesan dengan kata-kata yang dibold di atas. Ya, ‘Ultimate Goal’, tujuan akhir yang ingin dicapai. Dalam konteks ini, mungkin sederhananya adalah seperti: membuat obat untuk menyembuhkan kanker ganas, menemukan spesies baru di dasar laut, membuka komunikasi intergalaksi dengan para alien, dst…

Ok, kita pisahkan diri sejenak dari pembahasan penelitian, saya ingin mencermati lebih dalam kata-kata yang saya bold diatas. Jika disebutkan kata ‘ultimate’, untuk mendefinisikannya akan bermunculan kata-kata seperti: last, furthest or farthest, maximum, decesive, conclusive, highest, not subsidiary, basic, fundamental, final, dan total. Tak jarang pula kita mendengarnya dalam kata benda, ‘ultimatum’, yang pada artikata.com diartikan sebagai peringatan atau tuntutan yang terakhir dengan diberi batas waktu untuk menjawabnya. Cukup mendalam ya artinya. Dan saya rasa ialah tujuan teratas yang inign digapai oleh diri. Puncak dari puncak harapan, cita, yakni tujuan itu sendiri. Sehingga saya berpikir lagi, apa yang sesungguhnya disebut dengan ‘Ultimate Goal’ dalam hidup kita…? Adakah…?

Flash back sedikit. SLTP kelas 3. Ada sebuah sekolah ‘idaman’  di Bandung yang menarik minat dan angan sebagai pilihan melanjutkan langkah pendidikan bagi saya saat itu. Angkot Antapani-Ciroyom yang sehari-hari saya naiki, jika kebablasan karna saya ketiduran (misalnya) dan membawa saya ke arah yang lebih Barat, akan menampakkan sosok sekolah ‘idaman’ itu. Setiap melintasinya, saya menggambarkan diri yang sedang makan mie ayam di kantin yang memang ramai nian terpandang dari pinggir jalan. Bukan mie ayam nya yang saya mupeng-i, akan tetapi status ‘siswa’ sekolah tersebut yang menjadi cita pembangkit semangat kala itu. Hmm… Ultimate Goal…? Mungkin.

Waktu berlalu, Alhamdulillah, atas izin Allah saya bisa makan tak hanya mie ayam, tapi menu-menu enak lainnya di kantin sekolah itu sebagai siswa. Hehe.

SMA kelas 2 adalah masa-masa keemasan, mencari jati diri, merajut cita, menjalani aktivitas positif dengan penuh gelora. Di tengah hari-hari keemasan itu, wisata budaya mengantar diri ke tanah Yogyakarta. Tumbuh benih cita yang cukup lama terpendam untuk menjadi dokter. Plus lebih spesifik lagi untuk menjatuhkan pilihan ke UGM. Dengan jilbab berwarna merah, rok batik dan kaos putih, saya berfoto-foto di depan tugu bertuliskan “Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada”. Kemudian saya print, dan tempel di kamar, bersama bejibun kata-kata penyemangat yang memenuhi dinding kamar saat itu. Nostalgia SPMB. Jadi, inikah ultimate goal…? Mungkin saja.

Waktu berlalu lagi, Syukur Alhamdulillah, saya bisa foto-foto tak hanya di depan tugu saja, tapi juga di mushala, ruang kuliah, lab, sekre BEM, taman, dst.. Sebagai anggota keluarga FK UGM.

Kembali ke dunia nyata saat ini. Alhamdulliah, kini di depan nama saya terdapat dua huruf dengan satu titik yang mau tidak mau menuntut sederet konsekuensi beserta hak dan kewajiban di dalamnya. “dr.”.

Lalu kini, sudah terbangun lagi sederet mimpi dan cita untuk dilanjutkan di masa yang akan datang. Setiap tahap yang dilalui dengan seksama. Menyusun cita dan harapan untuk dicapai kemudian tercapai dengan izinNya. Urusan demi urusan itu silih berganti datang tak kenal henti hingga ajal menghampiri.

Jadi, sebenarnya,, “Ultimate Goal itu apa……?”

Setelah mengikuti seleksi Monbukagakusho lalu, dan berhasil luluh lantak dengan sukses di sesi wawancara (hehe), saya semakin mantap dengan sebuah keyakinan. Ya, sebuah keyakinan bahwa:

“ultimate goal itu tidak bisa diwujudkan di dunia…!”

🙂

Banyak cita yang tercapai, namun tak sedikit pula yang tak teracapai, wajarlah jika kecewa tapi cukup sesaat saja. Karna sungguh, segala apapun di dunia ini adalah sarana. Sarana untuk menggapai tujuan penciptaan kita. “Beribadah pada Allah SWT..”

masuk sekolah idaman itu sarana, menjadi dokter itu sarana, menjadi kaya atau miskin juga sarana, menikah pun sarana (yang sangat strategis untuk kesuksesan dunia-akhirat insyaAllah), mau apa lagi? Hafal Quran, ya sarana.. menjadi master chef, ya sarana… menjadi da’I kondang, sarana juga..

dan bercita-cita, pun sarana.. 🙂

lalu, dimana Ultimate Goal kita…?

Ibnu Ahmad Rahimahullah ditanya oleh seseorang:” Kapan seorang mukmin itu istirahat, Kemudian beliau Rahimahullah menjawab ” ketika kita menginjakkan kedua kaki kita di surga, itulah istirahat yang hakiki”

Ya, disanalah Ultimate Goal kita, insyaAllah… 🙂

” Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Al Insyiroh:7)

Pemalang, 29 September 2012

My brother was born this day, 18years ago 🙂

Advertisements

2 responses »

    • masa lupa sama Aul..hehe 🙂 iyaa, kmarin apply,,waktu itu sih belum nge-link, lagi try again ke Gunma, Aul.. tapi lihat sikon nanti, daftar lagi or nggak-nya.. dikau gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s